TOLERANSI AGAMA DENGAN PEMERINTAH

 

TOLERANSI AGAMA DENGAN PEMERINTAH

601766_411522738955701_1116065615_n

Oleh: Ayu Wantari (12531007)

Abstrak. Indonesia adalah bangsa yang religious, bangsa yang agamis, bangsa yang beragama, bangsa yang percaya kepada Tuhan yang Maha Esa.  Bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari agama-agama besar: Hindu, Budha, Islam, dan Kristen serta Konghuchu. Agama merupakan ketentuan-ketentuan Tuhan Yang Maha Esa mengandung nilai-nilai luhur, suci dan mulia yang dihayati dan diamalkan oleh para pemeluknya masing-masing merupakan factor yang berpengaruh dalam usaha bangsa Indonesia untuk mensukseskan pembangunan nasional.  Banyak hal positif yang bisa didapat jika agama dan pemerintah mempunyai suatu bentuk toleransi karena keduanya sama-sama membawa kesejahteraan bagi warga Negara. Setiap agama membawa misi kedamaiaan, terutama Islam yang kita ketahui sebagai rahmatan lil alamin. Sebuah agama atau beberapa agama akan membentuk masyarakat idaman dalam sebuah Negara. Anggapan bahwa agama adalah penghambat kemajuan Negara sebenarnya sangat salah. Tidak ada aturan yang mengarah pada hal-hal yang buruk. Namun sebaliknya banyak sekali aturan Negara yang tidak memperhatikan konsep yang telah diatur oleh agama. Sehingga toleransi agama terhadap Negara tidak boleh luput dari pemahaman kita. Pengetahuan yang luas adalah cara agar toleransi agama dengan Negara tidak menjadi suatu hal yang hanya dianggap formalitas belaka. Tetapi harus diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

 

Kata Kunci;  Toleransi, Agama dan  Pemerintah

 

  1. A.   Pendahuluan

Agama bisa diartikan sebagai kepercayaan pada hal-hal yang spiritual. Agama dijadikan sandaran penganutnya ketika terjadi hal-hal yang berada diluar jangkauan dan kemampuanya karena memiliki sifat supranatural sehingga agama diharapkan dapat mengatasi masalah nonempiris tersebut.

Dalam sebuah Negara agama sangat diperlukan guna membentuk setiap sendi kehidupan bernegara yang memihak pada kesejahteraan warganegaranya. Tetapi hal tersebut harus tetap sesuai dengan batasan  toleransi agama.  Karena jika tidak dikhawatirkan akan ada kesalahpahaman kebijakan  agama dan Negara yang saling tumpang tindih.

Fenomena yang disebut sebagai fundamentalisme agama tersebut memang tidak dapat dilepaskan dari situasi sosial, politik, dan ekonomi masyarakat kita. Kegagalan pemerintah mengatasi kemiskinan dan masalah-masalah ekonomi selalu membuat masyarakat tergoda untuk melakukan kekerasan dalam menyalurkan aspirasinya. Di samping itu, ketidaktegasan aparat juga turut memberi andil bagi kelangsungan hidup organisasi yang identik dengan kekerasan dalam mengemukakan pendapatnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa selama tidak ada perubahan dari kondisi sosial, politik, dan ekonomi masyarakat dan selama.

Banyak pihak zmemanfaatkan konsep agama dan Negara dengan cara yang salah untuk menjatuhkan kesucian agama. Mereka menjadikan hal-hal yang berkaitan dengan agama sebagai hal yang penuh sifat ekstrem. Misalnya tentang jihad padahal sebenarnya Jihad merupakan ibadah yang sangat mulia dan mempunyai potensi untuk menumbuhkan nilai kecintaan kepada Allah. Jihad menjadi iman dan sekaligus tolak ukur keimanan seseorang. Jihad adalah untuk mencurahkan segala usaha dan kemampuan dalam rangka mencapai kecintaan Allah SWT dan menentang apa yang dibencinya.

  • Jihad yang paling besar mengatakan kebenaran didepan penguasa yang lazim.
  • Cintailah perjuangan, karena perjuangan mendakatkan kita kepada tercapainya cita-cita.
  • Hidup berati perjuangan, hidup nikmat tanpa badai taufan adalah laksana laut yang mati.
  • Tidak ada kebahagian yang lebih besar melainkan berjuang untuk kepentingan orang banyak[1]

 

  1. B.   Pembahasan
    1. 1.    Agama dalam Negara

Menunjuk pada adanya agama-agama dalam satu negara. Artinya, pada satu negara ada banyak agama, namun mereka diberi hak dan kebebasan yang sama untuk melayani pemeluknya, melakukan ibadah, mengembangkan agamanya, dan juga membangun sarana ibadahnya. Di dalamnya termasuk negara Agama adalah hak paling dasar dari manusia yang harus dihormati dan dilindungi oleh siapapun bahkan oleh negara.

Masyarakat juga perlu memiliki sosok yang ditiru kepribadiannya. Seseorang yang pantas ditiru tersebut tentu saja seseorang yang memiliki nilai pribadi yang relegius. Mereka akan bersifat jujur, adil, dan mampu membimbing masyarakat kearah hidup yang lebih baik. Mementingkan, mengutamakan, memperhatikan salah satu agama sambil mengesampingkan yang lain. Akan tetapi, negara memberi kesempatan yang sama kepada agama-agama untuk pelayanan dan kesaksian kepada umatnya serta masyarakat dan bangsa secara luas.

Negara dan Agama saling membantu, menolong, dan kerja sama untuk mensejahterahkan masyarakat.[2] Negara menjadi fasilitator dalam kebebasan beragama dan toleransi antar umat beragama. Bahkan ada kesempatan bagi tokoh-tokoh agama untuk menegur pemimpin negara jika mereka melakukan penyimpangan, ketidakjujuran, ketidakadilan, korupsi, kolusi, nepotisme, dan hal-hal lain yang menyakiti rakyat.

Dilihat secara keseluruhan, tujuan seseorang beragama rata-rata untuk mencari ketenangan batin. Pendapat lain mengatakan bahwa faktor emosional seseorang mempengaruhi penghayatannya terhadap agama, misalnya sebagian lelaki kurang menghayati agama dibandingkan wanita karena terlalu mendahulukan rasional.

Agama memberi makna pada kehidupan individu dan kelompok juga memberikan kelanggengan hidup sesudah kematian. Agama dapat menjadi sarana manusia untuk mengangkat diri kehidupan duniawi yang  penuhh penderitaan, menuju kemandirian spiritual. Agama memperkuat norma-norma pokok, sanksi moral  perbuatan perorangan, dan menjadi dasar persamaan tujuan nilai-nilai landasan keseimbangan masyarakat.

 

  1. 2.    Fungsi Agama Terhadap Negara

Agama diIndonesia mempunyai arti, posisi dan peranan atau fungsi yang sangat penting dalam pembangunan nasional,  yaitu:[3]

  1. Sebagai factor motivatif(dorongan akhlak)
  2. Sebagai factor kreatif dan innovative(dorongan semangat kerja )
  3. Sebagai factor integrative (keserasian aktivitas)
  4. Sebagai sublimatif ( menjamin ketulusan)
  5. Sebagai sumber inspirasi budaya bangsa Indonesia

 

Agama merupakan pondasi hidup setiap manusia, tanpa adanya agama manusia tidak bisa berpikir secara naluri dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Indonesia merupakan negara yang meyakini keberadaan agama sebagai hal tersebut, ada 6 keyakinan yang terdapat di Indonesia dan masing-masing keyakinan mempunyai dasar ataupun pedoman sesuai dengan keyakinannya. Pancasila khususnya Sila ke-1 menyebutkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, sudah jelas dan tidak diragukan lagi, setiap manusia pasti mempunyai Tuhan dan percaya bahwa Tuhan itu ada.

Keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat yang berbeda kepercayaan merupakan wujud nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam bentuk keharmonisan, kebersamaan, ketentraman, dan sebagainya. Perbedaan keyakinan yang terdapat di dalam masyarakat itu merupakan multikulturalisme bangsa Indonesia. Namun, tidak jarang hal tersebut justru mendorong berbagai keributan/kerusuhan. Substansi kerusuhan tersebut sangat sempit dan kecil, tapi bisa juga menjadi kerusuhan berskala besar dan sulit untuk menemukan jalan tengahnya, dan bahkan bisa membawa nama masing-masing kelompok tersebut dalam ranah konflik yang bersifat SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan).

Agama yang bersifat kerusuhan tersebut tidak hanya terdapat pada masyarakat yang berbeda keyakinan, bahkan tak jarang dari mereka yang mempunyaikeyakinan dan tujuan yang sama justru malah mengalami konflik internal.

Hal tersebut dikarenakan rendahnya jiwa nasionalisme bangsa, yaitu jiwa yang mengikat kita pada satu rasa dan satu tujuan. Modal sosial terbentuk karena trust (kepercayaan) masyarakat terhadap apa yang mereka dengar dan lihat. Pancasila berperan penting dalam segala hal, begitu pula dalam keagamaan.

Sejarah manusia merupakan suatu interaksi dari pengulangan dan pembaharua Kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnyaserta menjadikan nilai-nilai dalam bersikap dan bertingkah laku ciri dari kematangan beragama. Jadi, kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-sehari. Ia menganut suatu agama karena menurut keyakinannya itu yang terbaik. Karena itu, ia berusaha menjadi penganut yang baik. Keyakinan itu ditampilkannya dalam sikap dan tingkah laku keagamaan yang mencerminkan ketaatan terhadap agamanya.[4]

Beragama atau kedewasaan seseorang dalam bergama biasanya ditunjukkan engan kesadaran keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agam yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya. Pada dasarnya terdapat dua faktor yang menyebabkan adanya hambatan; yaitu faktor diri sendiri, dan kapasitas diri dan pengalaman.

Kematangan beragama dapat dipandang sebagai keberagamaan yang terbuka pada semua fakta, nilai-nilai serta memberi arah pada kerangka hidup, baik secara teoritis maupun praktek dengan tetap berpegang teguh pada ajaran agama.[5]

Dengan adanya individu lain mereka berpikir untuk berteman. Oleh mereka karena itu mereka bergabung  membentuk kelompok dengan manusia lain. Perkembangan selanjutnnya, jumlah kelompok ini semakin banyak. Sehingga dibutuhkan pemimpin dan aturan aturan yang disepakati bersama.

Aturan-aturan ini juga diperlukan untuk mengikat tujuan bersama kelompok-kelompok tersebut. Dengan banyaknya keperluan yang terus meningkat  peraturan yang digunakan harus semakin kuat dan lebih mengikat. Disini kehadiran negara adalah yang paling tepat. Negara membuat aturan yang mempermudah aktivitas manusia. Tidak hanya membuat peraturan-peraturan, negara juga menyediakan fasilitas-fasilitas yang menunjang perkembangan kemajuan  disemua bidang kehidupan.

Manusia tidak akan dapat hidup sendiri dengan teratur tanpa adanya negara. Tidak ada yangg menjamin keamanan dan ketertiban mereka. Dari negara  seseorang dapat hidup bermasyarakat dengan ketertiban yang terjamin. Karena dalam Bhineka Tunggal Ika terdapat suatu ungkapan yang mengekspresi suatu keinginan yang kuat, tiadak hanya dikalangan politiktetapi juga diseluruhlapisan sosial untuk menncapai satu kesatuan meskipun terdapat karakter yang heterogen didalamnya

Negara merupakan persekutuan hidup bersama sebagai penjelmaan sifat kodrati manusia sebagai makhluk individu serta sebagai makhluk sosial. Manusia adalah pendiri negara itu sendiri sehingga terdapat hubungan horizontal untuk mencapai tujuan bersama.

Negara juga berperan dalam mengatasi penderitaan penduduk akibat kemiskinan dan ketidakadilan. Masalah-masalah masyarakat ini disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar dan persoalan pengembangan diri serta peluang turut serta dalam proses kemasyarakatan dan kenegaraan.

Hubungan negara dan agama diIndonesia lebih menganut pada asas keseimbangan yang dinamis, jalan tengah antara sekularisme dan teoraksi. Keseimbangan dinamis ialah tidakada pemisahan  agama dan politik, namun masing-masing dapat saling mengisi dengan segala peranannya. Agama tetap memiliki daya kritis terhadap negara dan negara punya kewajiban-kewajiban ter hadap agama. Dengan kata lain pola hubungan agama dan negara di Indonesia disebut dengan pola simbiotis-mutualisme.

Ada dua macam perjuangan : perjuangan untuk tatap hidup didunia dan perjuangan untuk meraih kehidupan kekal diakhirat. Toleransi dan Perdamaian adalah harapan yang harus diperjuangkan semua pihak. Bila tulisan ini harus diakhiri penulis sedikit mengutip perkataan sang pujangga Inggris, Samuel Johnson (1709-1784 M): “Di mana tidak ada harapan, disitu tidak ada usaha keras”.

Namun kita tidak boleh menyerah pada realita empiris dan terus memelihara harapan akan terwujudnya perdamaian yang penuh toleransi.  mana ada harapan, disitu harus ada usaha keras. Dalam konsep ini, Institusi Agama dan Negara yang berada dalam satu lokasi atau konteks kehidupan namun keduanya tidak saling mencampuri. Agama diciptakan untuk menghantar manusia mencapai hidup dan kehidupan masa depan eskhatologis, hidup setelah kehidupan sekarang, yang tidak lagi di batasi dimensi. Sedangkan negara diciptakan agar ada kesejahteraan, keteraturan dalam hidup bermasyarakat, sosialisasi, mengembangkan serta membangun sarana-sarana penunjang hidup dan kehidupan sesuai dengan kemampuan.

Peranan agama dalam memperkuat toleransi jelas semakin penting di masa sekarang ini dan ke depan. Era globalisasi sekarang selain medatangkan banyak masalah bagi umat beragama, menghadirkan banyak tantangan termasuk masih berlanjutnya ketegangan , konflik dan kekerasan di antara umat manusia, juga sebagai tantangan kita untuk membangun dunia yang lebih toleransi terutama toleransi antar umat beragama. Tugas utama pemuka agama dan umat beragama adalah terus mensosialisasikan dan sekaligus mengaktualisasikan ajaran-ajaran agama tentang toleransi dan perdamaian tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.

Artinya begini, gampang sekali kita terhasut dan saling menuding apabila urusan agama terlalu dicampuri negara. Akan begitu juga sebaliknya, janganlah agama mau sok turut campur terlalu jauh dalam urusan berbangsa dan bernegara. Sederhananya, saya ingin mengutip ujar-ujar klasik yang mengatakan ‘Berilah kepada negara apa yang menjadi milik negara dan berilah kepada agama apa yang pantas menjadi milik agama.’ Memilih dan dipilih sebagai pemimpin bangsa harus didasari pada pemahaman bahwa kita memilih karena kita adalah warga negara. Bahwa kita memilih not by religion but as citizen! Kita memilih bukan karena dan atas dasar agama, melainkan karena kita adalah warga Negara yang tertib hukum.

Dilihat dari pendapat lain yaitu dari Syaidzali dalam islam terdapat bebeerapa aliran yang menunjukan   model hubungan negara dan agama, sebagai berikut :

  1. Aliran yang menyatakan atau menganggap bahwa islam adalah agama paripurna yang  mampu mencakup segalanya, sehingga tidak dapat terpisahkan dari negara, urusan negara bisa dihubungkan dengan agama dan diselesaikan oleh agama.
  2. Aliran yang menganggap bahwa Islam dan negara dianggap tidak saling berhubungan karena islam bukan agama yang memiliki misi menciptakan terbentuknya negara.
  3. Aliran yang terakhir adalah aliran yang menyatakan jika Islam tidak mencakup segalanya tetapi tidak berarti sama sekali tidak ada hubungannya dengan negara. Islam mencakup seperangkat prisip-prinsip dan tata nilai etika tentang kehidupan bemasyarakat dan bernegara

 

 

  1. 3.    Fenomena hubungan Agama dan Negara

 

Agama idealnya menjaga jarak terhadap politik. Ia harus menjadi semacam ‘faktor X’ di luar kekuasaan dan dunia politik. Bukan justru masuk, terlibat, dan menjadi sama bobrok dan busuknya dengan para politisi tersebut. Coba Anda jujur pada diri sendiri, apakah agama semakin dimuliakan di tangan para politisi dan di lingkungan kekuasaan? Kalau jawaban Anda “ya” berarti Anda buta mata dan buta hati. Agama semakin diperkosa, korupsi merajalela, hukum dimanipulasi, harta dan tahta di tempatkan lebih tinggi dari apapun. Kekuasaan dicari dengan jalan tidak halal dan sangat sering melalui tindakan penghalalan segala cara. Sekarang apa-apa diberhalakan. Uang dan harta menjadi berhala.

Fundamentalisme[6] seperti yang telah dikemukakan oleh Karen Armstrong, merupakan salah satu fenomena yang sangat mengejutkan pada abad ke-20. Lantas kenapa terlihat lumrah dan biasa saja? Karena mereka mampu menempatkan diri dan cara pandang secara tepat, bahwa negara adalah negara, politik adalah politik, agama adalah agama. Mereka juga paham betul bahwa politik dan agama adalah dua sisi yang berbeda laksana kepala dan ekor pada uang logam. Tidak boleh terlalu rapat tapi jangan juga terlalu jauh. Keduanya mempunyai fungsi dan tabiatnya masing-masing. Laiknya minyak dan air yang tak boleh dicampuradukkan, tapi dua-duanya tetap dibutuhkan.

Begitu mengerikan ekspresi dari fundamentalisme saat ini, peristiwa paling menghebohkan dunia yang terjadi pada Semtember 2001 silam yaitu penghancuran gedung World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat, kejadian tersebut dihubungkan dengan fundamentalisme. Sementara di Indonesia terjadi peristiwa bom bunuh diri di berbagai tempat. tempat seperti Bom Bali I, Bom Bali II, Bom Kedutaan Besar Australia di Jakarta, dan lain sebagainya.

Motif dari berbagai peristiwa terorisme[7] tadi mewujudkan betapa toleransi harus menjadi pola komunikasi antar warga. Terlepas dari perbedaan agama, suku, etnis, budaya dan Negara juga status sosial. Dengan sikap toleran inilah diharapkan terciptanya kerukunan antar warga yang relasinya akan menciptakan dunia yang damai. Perdamaian dengan tidak pertumpah darahan. Perdamaian dengan tidak adanya kelompok yang merasa di marjinalkan. Untuk itu penulis rasa perlunya memahami toleransi sebagai sebuah jalan menuju perdamaian yang diharapkan tadi. Meski perlu disadari benturan-benturan peradaban memang tak dapat disangkal secara empiris. Peristiwa itu tidak jauh dari fundamentalisme agama yaitu menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan dengan dilandasi fanatisme agama yang berlebihan.

Perang Salib (1069-1291) merupakan perang antar umat Kristen Eropa dengan umat Islam yang memperebutkan Yerussalem/Palestina[8]. Perang Salib berlangsung hinggga tujuh kali (Perang Salib VII tahun 1270-1291) status Yerusalem/Palestina tidak berubah, yaitu tetap dikuasai umat Islam. Bahkan kedudukan Barat/Kristen di Syira dan Palestina hilang. Keuntungan dari peperangan itu, Barat menjadi mengenal dan memanfaatkan kebudayaan umat Islam yang sudah lebih tinggi daripada yang mereka miliki saati itu. Selain itu, hubungan dagang Asia-Eropa menjadi lebuh hidup dan berkembang.

Sebenarnya kita harus benar-benar peka terhadap hubungan agama dan Negara ini bahkan banyak kalangan tidak setuju terhadap partai-partai berbasis agama. Kenapa? Karena justru saat ini agama dijadikan alat politik (dan sangat sering diperalat politisi) untuk mencapai tujuan, bahkan bilapun itu harus dengan menghalalkan segala cara. Makanya jangan heran kalau kemurnian dan kesucian agama ini justru semakin menghilang dan tercemar. Agama seharusnya menawarkan apa yang tidak bisa diberikan dunia, bukan justru ikut-ikutan dan bahkan diperalat. Secara dasariah agama itu baik adanya, para pelakunya yang justru harus koreksi diri.

Untuk meminimalkan konflik antar umat beragama dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Tidak memperdebatkan segi perbedaan dalam agama
  2. Melakukan  kegiatan sosial yang melibatkan agama berbeda
  3. Membuat orientasi pendidikan pada pengembangan aspek pemahaman agama yang bersifat universal
  4.  Meningkatkan pembinaan individu yang mengarah pada terbentuknya pribadi yang berbudi pekerti
  5. Menghindari jauh-jauh sifat egoisme dalam beragama yang mengklaim mereka paling benar

 

 

KESIMPULAN

 

Agama merupakan pondasi hidup setiap manusia, tanpa adanya agama manusia tidak bisa berpikir secara naluri dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Indonesia merupakan negara yang meyakini keberadaan agama sebagai hal tersebut, ada 6 keyakinan yang terdapat di Indonesia dan masing-masing keyakinan mempunyai dasar ataupun pedoman sesuai dengan keyakinannya. Pancasila khususnya Sila ke-1 menyebutkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, sudah jelas dan tidak diragukan lagi, setiap manusia pasti mempunyai Tuhan dan percaya bahwa Tuhan itu ada.

Manusia adalah makhluk beragama dan bernegara. Agama memberikan nilai-nilai moral, norma pelajaran tentang tanggung jawab individu dan sosial serta memberi petunjuk mencapai kebaikan setelah kematian. Sedangkan dari negara manusia mendapat jaminan ketertiban dan kenyamanan dalam kehidupanya didunia.

Untuk mewujudkan pola hubungan yang dinamis antara agama dan negara diIndonesia, kedua komponen Indonesia tersebut seyogyanya mengedepankan cara-cara diologis manakala terjadi persisihan pandangan antara kelompok masyarakat sipil dengan negara. Untuk menompang tumbuhnya budaya dialog tersebut negara bisa menyediakan fasilitas-fasilitas demokrasi, kebebasan pers, kebebasan beroeganisasi, serta meningkatkan fasilitas publik guna menampung opini warga.

 

 

Daftar Pustaka

 

Azra, Azyumardi, pendidikan kewarganegaraan edisi ketiga, Kencana Prenada Media Group, Jakarta:2008

Dadang Kahmad Msi, Dr. H. Sosiologi agama.Pt. Remaja Rosdakarya, Bandung, Januari 2002

Departemen Agama RI. Konflik sosial Bernuansa Agama DiIndonesia ,Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan. Jakarta:2003

Djauhari. Pedoman Dasar Kerukunan Hidup Beragama.  Jakarta: Depag. 1983

Kurniawan, Civic Education. Lembaga Penerbitan dan Percetakan STAIN Curup. Curup: 2010

 

http://kriteriaorangyangmatangberagama.blogspot.com/   

 


[1] Ahmad,Mumtaz. 1986. Teori Politik Islam. Washington : PT American Trust Publications. Hal 15

[2]Dadang Kahmad Msi, Dr.H. Sosiologi agama.Pt. Remaja Rosdakarya, Bandung, Januari 2002. Hal.28

 

[3] Djauhari. Pedoman Dasar Kerukunan Hidup Beragama.  Jakarta: Depag. 1983 hal.3

[4] Jalaluddin, 2003,Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,

Hal 123-125

[5]http://kriteriaorangyangmatangberagama.blogspot.com/                           

[6] Arkoun,Mohamed. 2001. Islam Kontemporer. Yogyakarta : PT Pustaka Pendidikan hal, 10

[7] Ibid, hal 15

[8] Supriyadi, Dedi. Sejarah Perkembangan Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s