TOLERANSI AGAMA DENGAN PEMERINTAH

 

TOLERANSI AGAMA DENGAN PEMERINTAH

601766_411522738955701_1116065615_n

Oleh: Ayu Wantari (12531007)

Abstrak. Indonesia adalah bangsa yang religious, bangsa yang agamis, bangsa yang beragama, bangsa yang percaya kepada Tuhan yang Maha Esa.  Bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari agama-agama besar: Hindu, Budha, Islam, dan Kristen serta Konghuchu. Agama merupakan ketentuan-ketentuan Tuhan Yang Maha Esa mengandung nilai-nilai luhur, suci dan mulia yang dihayati dan diamalkan oleh para pemeluknya masing-masing merupakan factor yang berpengaruh dalam usaha bangsa Indonesia untuk mensukseskan pembangunan nasional.  Banyak hal positif yang bisa didapat jika agama dan pemerintah mempunyai suatu bentuk toleransi karena keduanya sama-sama membawa kesejahteraan bagi warga Negara. Setiap agama membawa misi kedamaiaan, terutama Islam yang kita ketahui sebagai rahmatan lil alamin. Sebuah agama atau beberapa agama akan membentuk masyarakat idaman dalam sebuah Negara. Anggapan bahwa agama adalah penghambat kemajuan Negara sebenarnya sangat salah. Tidak ada aturan yang mengarah pada hal-hal yang buruk. Namun sebaliknya banyak sekali aturan Negara yang tidak memperhatikan konsep yang telah diatur oleh agama. Sehingga toleransi agama terhadap Negara tidak boleh luput dari pemahaman kita. Pengetahuan yang luas adalah cara agar toleransi agama dengan Negara tidak menjadi suatu hal yang hanya dianggap formalitas belaka. Tetapi harus diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

 

Kata Kunci;  Toleransi, Agama dan  Pemerintah

 

  1. A.   Pendahuluan

Agama bisa diartikan sebagai kepercayaan pada hal-hal yang spiritual. Agama dijadikan sandaran penganutnya ketika terjadi hal-hal yang berada diluar jangkauan dan kemampuanya karena memiliki sifat supranatural sehingga agama diharapkan dapat mengatasi masalah nonempiris tersebut.

Dalam sebuah Negara agama sangat diperlukan guna membentuk setiap sendi kehidupan bernegara yang memihak pada kesejahteraan warganegaranya. Tetapi hal tersebut harus tetap sesuai dengan batasan  toleransi agama.  Karena jika tidak dikhawatirkan akan ada kesalahpahaman kebijakan  agama dan Negara yang saling tumpang tindih.

Fenomena yang disebut sebagai fundamentalisme agama tersebut memang tidak dapat dilepaskan dari situasi sosial, politik, dan ekonomi masyarakat kita. Kegagalan pemerintah mengatasi kemiskinan dan masalah-masalah ekonomi selalu membuat masyarakat tergoda untuk melakukan kekerasan dalam menyalurkan aspirasinya. Di samping itu, ketidaktegasan aparat juga turut memberi andil bagi kelangsungan hidup organisasi yang identik dengan kekerasan dalam mengemukakan pendapatnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa selama tidak ada perubahan dari kondisi sosial, politik, dan ekonomi masyarakat dan selama.

Banyak pihak zmemanfaatkan konsep agama dan Negara dengan cara yang salah untuk menjatuhkan kesucian agama. Mereka menjadikan hal-hal yang berkaitan dengan agama sebagai hal yang penuh sifat ekstrem. Misalnya tentang jihad padahal sebenarnya Jihad merupakan ibadah yang sangat mulia dan mempunyai potensi untuk menumbuhkan nilai kecintaan kepada Allah. Jihad menjadi iman dan sekaligus tolak ukur keimanan seseorang. Jihad adalah untuk mencurahkan segala usaha dan kemampuan dalam rangka mencapai kecintaan Allah SWT dan menentang apa yang dibencinya.

  • Jihad yang paling besar mengatakan kebenaran didepan penguasa yang lazim.
  • Cintailah perjuangan, karena perjuangan mendakatkan kita kepada tercapainya cita-cita.
  • Hidup berati perjuangan, hidup nikmat tanpa badai taufan adalah laksana laut yang mati.
  • Tidak ada kebahagian yang lebih besar melainkan berjuang untuk kepentingan orang banyak[1]

 

  1. B.   Pembahasan
    1. 1.    Agama dalam Negara

Menunjuk pada adanya agama-agama dalam satu negara. Artinya, pada satu negara ada banyak agama, namun mereka diberi hak dan kebebasan yang sama untuk melayani pemeluknya, melakukan ibadah, mengembangkan agamanya, dan juga membangun sarana ibadahnya. Di dalamnya termasuk negara Agama adalah hak paling dasar dari manusia yang harus dihormati dan dilindungi oleh siapapun bahkan oleh negara.

Masyarakat juga perlu memiliki sosok yang ditiru kepribadiannya. Seseorang yang pantas ditiru tersebut tentu saja seseorang yang memiliki nilai pribadi yang relegius. Mereka akan bersifat jujur, adil, dan mampu membimbing masyarakat kearah hidup yang lebih baik. Mementingkan, mengutamakan, memperhatikan salah satu agama sambil mengesampingkan yang lain. Akan tetapi, negara memberi kesempatan yang sama kepada agama-agama untuk pelayanan dan kesaksian kepada umatnya serta masyarakat dan bangsa secara luas.

Negara dan Agama saling membantu, menolong, dan kerja sama untuk mensejahterahkan masyarakat.[2] Negara menjadi fasilitator dalam kebebasan beragama dan toleransi antar umat beragama. Bahkan ada kesempatan bagi tokoh-tokoh agama untuk menegur pemimpin negara jika mereka melakukan penyimpangan, ketidakjujuran, ketidakadilan, korupsi, kolusi, nepotisme, dan hal-hal lain yang menyakiti rakyat.

Dilihat secara keseluruhan, tujuan seseorang beragama rata-rata untuk mencari ketenangan batin. Pendapat lain mengatakan bahwa faktor emosional seseorang mempengaruhi penghayatannya terhadap agama, misalnya sebagian lelaki kurang menghayati agama dibandingkan wanita karena terlalu mendahulukan rasional.

Agama memberi makna pada kehidupan individu dan kelompok juga memberikan kelanggengan hidup sesudah kematian. Agama dapat menjadi sarana manusia untuk mengangkat diri kehidupan duniawi yang  penuhh penderitaan, menuju kemandirian spiritual. Agama memperkuat norma-norma pokok, sanksi moral  perbuatan perorangan, dan menjadi dasar persamaan tujuan nilai-nilai landasan keseimbangan masyarakat.

 

  1. 2.    Fungsi Agama Terhadap Negara

Agama diIndonesia mempunyai arti, posisi dan peranan atau fungsi yang sangat penting dalam pembangunan nasional,  yaitu:[3]

  1. Sebagai factor motivatif(dorongan akhlak)
  2. Sebagai factor kreatif dan innovative(dorongan semangat kerja )
  3. Sebagai factor integrative (keserasian aktivitas)
  4. Sebagai sublimatif ( menjamin ketulusan)
  5. Sebagai sumber inspirasi budaya bangsa Indonesia

 

Agama merupakan pondasi hidup setiap manusia, tanpa adanya agama manusia tidak bisa berpikir secara naluri dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Indonesia merupakan negara yang meyakini keberadaan agama sebagai hal tersebut, ada 6 keyakinan yang terdapat di Indonesia dan masing-masing keyakinan mempunyai dasar ataupun pedoman sesuai dengan keyakinannya. Pancasila khususnya Sila ke-1 menyebutkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, sudah jelas dan tidak diragukan lagi, setiap manusia pasti mempunyai Tuhan dan percaya bahwa Tuhan itu ada.

Keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat yang berbeda kepercayaan merupakan wujud nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam bentuk keharmonisan, kebersamaan, ketentraman, dan sebagainya. Perbedaan keyakinan yang terdapat di dalam masyarakat itu merupakan multikulturalisme bangsa Indonesia. Namun, tidak jarang hal tersebut justru mendorong berbagai keributan/kerusuhan. Substansi kerusuhan tersebut sangat sempit dan kecil, tapi bisa juga menjadi kerusuhan berskala besar dan sulit untuk menemukan jalan tengahnya, dan bahkan bisa membawa nama masing-masing kelompok tersebut dalam ranah konflik yang bersifat SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan).

Agama yang bersifat kerusuhan tersebut tidak hanya terdapat pada masyarakat yang berbeda keyakinan, bahkan tak jarang dari mereka yang mempunyaikeyakinan dan tujuan yang sama justru malah mengalami konflik internal.

Hal tersebut dikarenakan rendahnya jiwa nasionalisme bangsa, yaitu jiwa yang mengikat kita pada satu rasa dan satu tujuan. Modal sosial terbentuk karena trust (kepercayaan) masyarakat terhadap apa yang mereka dengar dan lihat. Pancasila berperan penting dalam segala hal, begitu pula dalam keagamaan.

Sejarah manusia merupakan suatu interaksi dari pengulangan dan pembaharua Kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnyaserta menjadikan nilai-nilai dalam bersikap dan bertingkah laku ciri dari kematangan beragama. Jadi, kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-sehari. Ia menganut suatu agama karena menurut keyakinannya itu yang terbaik. Karena itu, ia berusaha menjadi penganut yang baik. Keyakinan itu ditampilkannya dalam sikap dan tingkah laku keagamaan yang mencerminkan ketaatan terhadap agamanya.[4]

Beragama atau kedewasaan seseorang dalam bergama biasanya ditunjukkan engan kesadaran keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agam yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya. Pada dasarnya terdapat dua faktor yang menyebabkan adanya hambatan; yaitu faktor diri sendiri, dan kapasitas diri dan pengalaman.

Kematangan beragama dapat dipandang sebagai keberagamaan yang terbuka pada semua fakta, nilai-nilai serta memberi arah pada kerangka hidup, baik secara teoritis maupun praktek dengan tetap berpegang teguh pada ajaran agama.[5]

Dengan adanya individu lain mereka berpikir untuk berteman. Oleh mereka karena itu mereka bergabung  membentuk kelompok dengan manusia lain. Perkembangan selanjutnnya, jumlah kelompok ini semakin banyak. Sehingga dibutuhkan pemimpin dan aturan aturan yang disepakati bersama.

Aturan-aturan ini juga diperlukan untuk mengikat tujuan bersama kelompok-kelompok tersebut. Dengan banyaknya keperluan yang terus meningkat  peraturan yang digunakan harus semakin kuat dan lebih mengikat. Disini kehadiran negara adalah yang paling tepat. Negara membuat aturan yang mempermudah aktivitas manusia. Tidak hanya membuat peraturan-peraturan, negara juga menyediakan fasilitas-fasilitas yang menunjang perkembangan kemajuan  disemua bidang kehidupan.

Manusia tidak akan dapat hidup sendiri dengan teratur tanpa adanya negara. Tidak ada yangg menjamin keamanan dan ketertiban mereka. Dari negara  seseorang dapat hidup bermasyarakat dengan ketertiban yang terjamin. Karena dalam Bhineka Tunggal Ika terdapat suatu ungkapan yang mengekspresi suatu keinginan yang kuat, tiadak hanya dikalangan politiktetapi juga diseluruhlapisan sosial untuk menncapai satu kesatuan meskipun terdapat karakter yang heterogen didalamnya

Negara merupakan persekutuan hidup bersama sebagai penjelmaan sifat kodrati manusia sebagai makhluk individu serta sebagai makhluk sosial. Manusia adalah pendiri negara itu sendiri sehingga terdapat hubungan horizontal untuk mencapai tujuan bersama.

Negara juga berperan dalam mengatasi penderitaan penduduk akibat kemiskinan dan ketidakadilan. Masalah-masalah masyarakat ini disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar dan persoalan pengembangan diri serta peluang turut serta dalam proses kemasyarakatan dan kenegaraan.

Hubungan negara dan agama diIndonesia lebih menganut pada asas keseimbangan yang dinamis, jalan tengah antara sekularisme dan teoraksi. Keseimbangan dinamis ialah tidakada pemisahan  agama dan politik, namun masing-masing dapat saling mengisi dengan segala peranannya. Agama tetap memiliki daya kritis terhadap negara dan negara punya kewajiban-kewajiban ter hadap agama. Dengan kata lain pola hubungan agama dan negara di Indonesia disebut dengan pola simbiotis-mutualisme.

Ada dua macam perjuangan : perjuangan untuk tatap hidup didunia dan perjuangan untuk meraih kehidupan kekal diakhirat. Toleransi dan Perdamaian adalah harapan yang harus diperjuangkan semua pihak. Bila tulisan ini harus diakhiri penulis sedikit mengutip perkataan sang pujangga Inggris, Samuel Johnson (1709-1784 M): “Di mana tidak ada harapan, disitu tidak ada usaha keras”.

Namun kita tidak boleh menyerah pada realita empiris dan terus memelihara harapan akan terwujudnya perdamaian yang penuh toleransi.  mana ada harapan, disitu harus ada usaha keras. Dalam konsep ini, Institusi Agama dan Negara yang berada dalam satu lokasi atau konteks kehidupan namun keduanya tidak saling mencampuri. Agama diciptakan untuk menghantar manusia mencapai hidup dan kehidupan masa depan eskhatologis, hidup setelah kehidupan sekarang, yang tidak lagi di batasi dimensi. Sedangkan negara diciptakan agar ada kesejahteraan, keteraturan dalam hidup bermasyarakat, sosialisasi, mengembangkan serta membangun sarana-sarana penunjang hidup dan kehidupan sesuai dengan kemampuan.

Peranan agama dalam memperkuat toleransi jelas semakin penting di masa sekarang ini dan ke depan. Era globalisasi sekarang selain medatangkan banyak masalah bagi umat beragama, menghadirkan banyak tantangan termasuk masih berlanjutnya ketegangan , konflik dan kekerasan di antara umat manusia, juga sebagai tantangan kita untuk membangun dunia yang lebih toleransi terutama toleransi antar umat beragama. Tugas utama pemuka agama dan umat beragama adalah terus mensosialisasikan dan sekaligus mengaktualisasikan ajaran-ajaran agama tentang toleransi dan perdamaian tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.

Artinya begini, gampang sekali kita terhasut dan saling menuding apabila urusan agama terlalu dicampuri negara. Akan begitu juga sebaliknya, janganlah agama mau sok turut campur terlalu jauh dalam urusan berbangsa dan bernegara. Sederhananya, saya ingin mengutip ujar-ujar klasik yang mengatakan ‘Berilah kepada negara apa yang menjadi milik negara dan berilah kepada agama apa yang pantas menjadi milik agama.’ Memilih dan dipilih sebagai pemimpin bangsa harus didasari pada pemahaman bahwa kita memilih karena kita adalah warga negara. Bahwa kita memilih not by religion but as citizen! Kita memilih bukan karena dan atas dasar agama, melainkan karena kita adalah warga Negara yang tertib hukum.

Dilihat dari pendapat lain yaitu dari Syaidzali dalam islam terdapat bebeerapa aliran yang menunjukan   model hubungan negara dan agama, sebagai berikut :

  1. Aliran yang menyatakan atau menganggap bahwa islam adalah agama paripurna yang  mampu mencakup segalanya, sehingga tidak dapat terpisahkan dari negara, urusan negara bisa dihubungkan dengan agama dan diselesaikan oleh agama.
  2. Aliran yang menganggap bahwa Islam dan negara dianggap tidak saling berhubungan karena islam bukan agama yang memiliki misi menciptakan terbentuknya negara.
  3. Aliran yang terakhir adalah aliran yang menyatakan jika Islam tidak mencakup segalanya tetapi tidak berarti sama sekali tidak ada hubungannya dengan negara. Islam mencakup seperangkat prisip-prinsip dan tata nilai etika tentang kehidupan bemasyarakat dan bernegara

 

 

  1. 3.    Fenomena hubungan Agama dan Negara

 

Agama idealnya menjaga jarak terhadap politik. Ia harus menjadi semacam ‘faktor X’ di luar kekuasaan dan dunia politik. Bukan justru masuk, terlibat, dan menjadi sama bobrok dan busuknya dengan para politisi tersebut. Coba Anda jujur pada diri sendiri, apakah agama semakin dimuliakan di tangan para politisi dan di lingkungan kekuasaan? Kalau jawaban Anda “ya” berarti Anda buta mata dan buta hati. Agama semakin diperkosa, korupsi merajalela, hukum dimanipulasi, harta dan tahta di tempatkan lebih tinggi dari apapun. Kekuasaan dicari dengan jalan tidak halal dan sangat sering melalui tindakan penghalalan segala cara. Sekarang apa-apa diberhalakan. Uang dan harta menjadi berhala.

Fundamentalisme[6] seperti yang telah dikemukakan oleh Karen Armstrong, merupakan salah satu fenomena yang sangat mengejutkan pada abad ke-20. Lantas kenapa terlihat lumrah dan biasa saja? Karena mereka mampu menempatkan diri dan cara pandang secara tepat, bahwa negara adalah negara, politik adalah politik, agama adalah agama. Mereka juga paham betul bahwa politik dan agama adalah dua sisi yang berbeda laksana kepala dan ekor pada uang logam. Tidak boleh terlalu rapat tapi jangan juga terlalu jauh. Keduanya mempunyai fungsi dan tabiatnya masing-masing. Laiknya minyak dan air yang tak boleh dicampuradukkan, tapi dua-duanya tetap dibutuhkan.

Begitu mengerikan ekspresi dari fundamentalisme saat ini, peristiwa paling menghebohkan dunia yang terjadi pada Semtember 2001 silam yaitu penghancuran gedung World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat, kejadian tersebut dihubungkan dengan fundamentalisme. Sementara di Indonesia terjadi peristiwa bom bunuh diri di berbagai tempat. tempat seperti Bom Bali I, Bom Bali II, Bom Kedutaan Besar Australia di Jakarta, dan lain sebagainya.

Motif dari berbagai peristiwa terorisme[7] tadi mewujudkan betapa toleransi harus menjadi pola komunikasi antar warga. Terlepas dari perbedaan agama, suku, etnis, budaya dan Negara juga status sosial. Dengan sikap toleran inilah diharapkan terciptanya kerukunan antar warga yang relasinya akan menciptakan dunia yang damai. Perdamaian dengan tidak pertumpah darahan. Perdamaian dengan tidak adanya kelompok yang merasa di marjinalkan. Untuk itu penulis rasa perlunya memahami toleransi sebagai sebuah jalan menuju perdamaian yang diharapkan tadi. Meski perlu disadari benturan-benturan peradaban memang tak dapat disangkal secara empiris. Peristiwa itu tidak jauh dari fundamentalisme agama yaitu menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan dengan dilandasi fanatisme agama yang berlebihan.

Perang Salib (1069-1291) merupakan perang antar umat Kristen Eropa dengan umat Islam yang memperebutkan Yerussalem/Palestina[8]. Perang Salib berlangsung hinggga tujuh kali (Perang Salib VII tahun 1270-1291) status Yerusalem/Palestina tidak berubah, yaitu tetap dikuasai umat Islam. Bahkan kedudukan Barat/Kristen di Syira dan Palestina hilang. Keuntungan dari peperangan itu, Barat menjadi mengenal dan memanfaatkan kebudayaan umat Islam yang sudah lebih tinggi daripada yang mereka miliki saati itu. Selain itu, hubungan dagang Asia-Eropa menjadi lebuh hidup dan berkembang.

Sebenarnya kita harus benar-benar peka terhadap hubungan agama dan Negara ini bahkan banyak kalangan tidak setuju terhadap partai-partai berbasis agama. Kenapa? Karena justru saat ini agama dijadikan alat politik (dan sangat sering diperalat politisi) untuk mencapai tujuan, bahkan bilapun itu harus dengan menghalalkan segala cara. Makanya jangan heran kalau kemurnian dan kesucian agama ini justru semakin menghilang dan tercemar. Agama seharusnya menawarkan apa yang tidak bisa diberikan dunia, bukan justru ikut-ikutan dan bahkan diperalat. Secara dasariah agama itu baik adanya, para pelakunya yang justru harus koreksi diri.

Untuk meminimalkan konflik antar umat beragama dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Tidak memperdebatkan segi perbedaan dalam agama
  2. Melakukan  kegiatan sosial yang melibatkan agama berbeda
  3. Membuat orientasi pendidikan pada pengembangan aspek pemahaman agama yang bersifat universal
  4.  Meningkatkan pembinaan individu yang mengarah pada terbentuknya pribadi yang berbudi pekerti
  5. Menghindari jauh-jauh sifat egoisme dalam beragama yang mengklaim mereka paling benar

 

 

KESIMPULAN

 

Agama merupakan pondasi hidup setiap manusia, tanpa adanya agama manusia tidak bisa berpikir secara naluri dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Indonesia merupakan negara yang meyakini keberadaan agama sebagai hal tersebut, ada 6 keyakinan yang terdapat di Indonesia dan masing-masing keyakinan mempunyai dasar ataupun pedoman sesuai dengan keyakinannya. Pancasila khususnya Sila ke-1 menyebutkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, sudah jelas dan tidak diragukan lagi, setiap manusia pasti mempunyai Tuhan dan percaya bahwa Tuhan itu ada.

Manusia adalah makhluk beragama dan bernegara. Agama memberikan nilai-nilai moral, norma pelajaran tentang tanggung jawab individu dan sosial serta memberi petunjuk mencapai kebaikan setelah kematian. Sedangkan dari negara manusia mendapat jaminan ketertiban dan kenyamanan dalam kehidupanya didunia.

Untuk mewujudkan pola hubungan yang dinamis antara agama dan negara diIndonesia, kedua komponen Indonesia tersebut seyogyanya mengedepankan cara-cara diologis manakala terjadi persisihan pandangan antara kelompok masyarakat sipil dengan negara. Untuk menompang tumbuhnya budaya dialog tersebut negara bisa menyediakan fasilitas-fasilitas demokrasi, kebebasan pers, kebebasan beroeganisasi, serta meningkatkan fasilitas publik guna menampung opini warga.

 

 

Daftar Pustaka

 

Azra, Azyumardi, pendidikan kewarganegaraan edisi ketiga, Kencana Prenada Media Group, Jakarta:2008

Dadang Kahmad Msi, Dr. H. Sosiologi agama.Pt. Remaja Rosdakarya, Bandung, Januari 2002

Departemen Agama RI. Konflik sosial Bernuansa Agama DiIndonesia ,Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan. Jakarta:2003

Djauhari. Pedoman Dasar Kerukunan Hidup Beragama.  Jakarta: Depag. 1983

Kurniawan, Civic Education. Lembaga Penerbitan dan Percetakan STAIN Curup. Curup: 2010

 

http://kriteriaorangyangmatangberagama.blogspot.com/   

 


[1] Ahmad,Mumtaz. 1986. Teori Politik Islam. Washington : PT American Trust Publications. Hal 15

[2]Dadang Kahmad Msi, Dr.H. Sosiologi agama.Pt. Remaja Rosdakarya, Bandung, Januari 2002. Hal.28

 

[3] Djauhari. Pedoman Dasar Kerukunan Hidup Beragama.  Jakarta: Depag. 1983 hal.3

[4] Jalaluddin, 2003,Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,

Hal 123-125

[5]http://kriteriaorangyangmatangberagama.blogspot.com/                           

[6] Arkoun,Mohamed. 2001. Islam Kontemporer. Yogyakarta : PT Pustaka Pendidikan hal, 10

[7] Ibid, hal 15

[8] Supriyadi, Dedi. Sejarah Perkembangan Islam.

Pemeliharaan al-Qur’an

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat agama Islam di dunia wajib bagi kita untuk menguji tentang al-Qur’an secara mendalam agar kita bisa memahami dan bisa menerapkannya dikalangan keluarga maupun masyarakat.
Yang mana Al-Qur’an yang diwahyukan dari Allah kepada malaikat, disampaikan kepada Nabi Muhammad dan disampaikan kepada masyarakat sebagai pedoman hidup
B.     Rumusan Masalah
1.      Cara Pemeliharaan Al-Qur’an dalam masa Nabi saw.
2.      Cara pemeliharaan al-Qur’an dalam masa Khalifah Abu Bakar siddiq
3.      Cara pemeliharan al-Qur’an dalam masa kalifah Usman bin Affan.
C.    Tujuan Masalah
Dapat memahami cara pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Nabi saw, Abu Bakar Siddiq, dan Usman bin Affan.
D.    Batasan Masalah
Dalam Batasan Masalah ini Penulis hanya membatasi pada cara pemeliharaan al-Qur’an pada masa nabi saw, Abu Bakar Siddiq dan Usman bin Affan.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMELIHARAAN AL-QUR’AN
1.      Masa Nabi SAW
Allah menghrndaki wahyu yang telah diturunkan-Nya itu terpelihara keorisilannya selama-lamanya. Ada dua cara yang dicatat oleh sejarah dalam pemeliharaan Al-Qur’an yaitu dengan menghafal dan menuliskannya. Dalam berbagai riwayat yang sahih disebutkan bahwa setiap turun wahyu, Nabi memanggil para penulis wahyu untuk mencatat wahyu yang turun.
Orang pertama yang menjadi penulis wahyu bagi Nabi di periode Mekah ialah ‘Abd Allah bin Abi Sarh. Selain dia, juga ikut menjadi penulis wahyu para khalifah yang empat, al-Zubayr bin ‘Awwam, Khalid dan Aban dua putera Sa’id bin al-‘Ash bin Umayyah, Hanzhalah bin al-Rabi’ al-Asadi, Mu’ayqib bin Abi Fathimah, ‘Abd Allah bin al-Arqam al-Zuhri, Syurahbil bin Hasanah, dan ‘Abd Allah bin Rawahah.
Setelah hijrah ke Madinah, maka yang mula-mula menjadi pe­nulis wahyu ialah Ubayy bin Ka’b. Kemudian diikuti oleh Zayd bin Tsabit dan sejumlah sahabat lainnya sehingga jumlah mereka men­capai 43 orang. Di antara  para penulis wahyu itu, ada beberapa orang yang menaruh perhatian amat besar dalam pencatatan (tadwin) Al-Qur’an. Mereka itu adalah Ali bin Abi Thalib, ‘Abd Allah bin Mas’ud, Abu al-Darda, Mu’adz bin Jabal, Zayd bin Tsabit, Ubayy bin Ka’b, dan lain-lain.
Bahan-bahan yang dijadikan untuk mencatat wahyu-wahyu yang turun ialah benda-benda yang dapat ditulis dan mudah didapat­kan waktu itu seperti al-riqa (batu, pelepah kurma, tulang, dan se­bagainya).
Para penulis wahyu itu mencatat setiap wahyu yang turun sesuai dengan lafal yang disampaikan oleh Nabi. Pencatatan. Resmi di hadapan Nabi inilah kemudian yang disajikan dasar oleh Abu Bakar dalam menghimpun Al-Qur’an. Ayat itu menggambarkan kepada kita bahwa ayat-ayat madaniyyah yang diturunkan belakangan dimasukkan ke dalam kelompok ayat-ayat makkiyah yang sudah lebih dulu diturunkan.
Bahwa al-Qur’an sudah ditulis pada waktu Nabi masih Hidup, semua ahli mengkuinya, baik ulama, maupun kaum orientalis. Namun yang menjadi permasalahan disini : apakah keseluruhan Al-Qur’an sudah tercatat di waktu itu, pendapat Guillaume ini tidak didukung oleh fakta sejarah dan argument yang kuat. Bukti-bukti yang autentik menunjukkan bahwa tak ada al-Qur’an yang luput dari catatan penulis wahyu meskipun Nabi dan para sahabatnya berada dalam keadaan dan kondisi yang sangat sulit seperti yang mereka alami pada periode Mekkah. periode ini sebagaimana dicatat oleh sejarah, dapat disebut masa kesengsaraan dan penderitaan bagi Nabi dan para sahabatnya.
Walaupun keadaan teramat mencekam karena selalu dikejar­-kejar oleh kafir Mekah, namun para penulis wahyu tetap. setia men­dampingi Nabi dan senantiasa siap setiap saat untuk menuliskan wahyu yang turun. Buktinya Umar bin al-Khaththab menemukan naskah surat Thaha di rumah adiknya, Fathimah binti al-Khaththab, setelah membaca naskah itu ia (Umar) bergegas ke rumah Rasul Allah, dan langsung menyatakan masuk Islam di hadapan Nabi saw. Ini terjadi antara tiga sampai empat tahun sebelum hijrah ke Madinah.
Dalam keadaan yang sangat sempit dan mencekam sebagaimana digambarkan itu, pencatatan Alqur’an terus berjalan; tentu sangat masuk akal bila pada periode Madinah pencatatan wahyu yang turun lebih banyak karena situasi dan kondisis umat Islam waktu ini relatif lebih baik, aman dan tenterarn.. Apalagi di periode Madinah ini umat Islam telah merupakan satu komunitas muslim yang kuat dan disegani di tanah Arab dengan Nabi sebagai pimpinannya.
Disamping mencatat setiap wahyu yang turun, cara kedua yang digunakan dalam memelihara Al-Qur’an ialah melalui hafalan. Para sahabat umumnya menghafal Al-Qur’an namun mereka yang menghafal keseluruhannya tidak banyak, antara lain Ubbayy bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zayd bin Tsabit, Abu Zayd, Abu al-Darda, Sa’ad bin Ubaid, Usman bin Affan, dan lain-lain.
Fakta sejarah yang dikemukakan itu sekaligus member gambaran kepada kita bahwa al-Qur’an yang diturunkan kepada nabi Muhammad benar-benar asli dan mutawir dikalangan sahabat dan umat islam waktu itu.
2.      Masa Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq
Setelah Nabi wafat tahun 11 H. (632 M) Abu bakar diangkat menjadi Khalifah (Kepala Negara) Menggantikannya. Tak lama kemudian sebagian kaum muslim murtad. Mereka tak mau membayar zakat. Selain itu muncul beberapa Nabi palsu yang memberontak terhadap Abu bakar seperti Musaylimah al-Kadzdzab, al-aswad al-Ansi, Sajah binti al-Harists dan lain-lain. Akibatnya ketentraman masyarakat, stabilitas keamanan dan politik terancam. Semua itu memaksa Khalifah untuk mengambil tindakan tegas dan keras.
Akhirnya pecahlah pertempuran yang sengit di Yaman melawan pasukan Musaylimah. Bergugurlah korban di kedua belah pihak. Diantara para sahabat Nabi yang gugur, terdapat 70 orang mereka yang hafal al-Qur’an.
Mengingat kondisi yang kritis semacam itu, maka umar mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar supaya Al-Quran yang sudah ditulis di masa Nabi itu dihimpun dalam satu kitab.
Pada mulanya Abu Bakar menolak usul Umar itu dengan alas an, Nabi tak pernah melakukannya. Ia khawatir, kalau-kalau perbuatan tersebut menyeleweng dari garis yang telah ditetapkan Nabi.
Akhirnya setelah melalui diskusi yang relative lama antara kedua tokoh itu, tuhan membukakan hati Abu Bakar menerima dan melaksanakan gagasan Umar tersebut. Lalu ia memanggil Zayd bin Tsabit, seseorang pemuda yang berpengetahuan luas, jujur, dan salah seorang penulis wahyu, untuk meneliti kembali naskah-naskah al-Qur’an yang telah ditulis ketika Nabi masih hidup. Pada mulanya seperti Abu Bakar Zayd juga menolak ide tersebut. Alasannya persis sebagaimana yang dikemukakan Abu Bakar pula. Ketika inilah Zayd berkata “memindahkan sebuah gunung jauh lebih mudah bagiku daripada meneliti dan menghimpun Al-Qur’an”.
Dari sensor ayat-ayat yang dilakukan oleh Zayd itu, kita mendapat gamabaran bahwa yang dijadikan patokan dalam membuktikan al-Qur’an di masa Abu bakar itu ialah hafalan dan tulisan sekaligus. Artinya jika hanya salah satu yang ada : hafalan atau tulisan, maka penulisan ditaguhkan sampai dijumpai kedua saksi itu seperti yang dilakukan Zayd terhadap kasus akhir surat al-Tawbah dan ayat 23 dari surat al-Ahzab sebagaimana telah diungkapkan.
Dengan menggunakan pedoman tersebut, akhirnya Zayd berhasil menghimpun Al-Qur’an dalam bentuk buku yang kemudian diberi nama ‘MUSHHAF’. Kemudian disimpan dirumah Abu Bakar. Setelah beliau wafat, disimpan di rumah Umar, dan sepeninggal Umar disimpan di rumah Hafsah, putrid Umar, yang juga salah seorang mantan istri Rasul Allah saw.
Fakta sejarah itu menimbuktikan dengan jelas bahwa Abu Bakar amat hati-hati dalam menjaga kemurnian dan keutuhan Al-Qur’an yang merupakan dasar bagi keseluruhan ajaran Islam.
Tidak berlebihan bila Ali bin Abi Thalib menyatakan : “Orang yang paling besar jasanya dalam membukukan Al-Qur’an ialah Abu Bakar. Dialaha orang yang pertama membukukan kitab Allah”.
3.      Masa Khalifah Usman bin Affan
Telah dimaklumi bahwa Nabi SAW memebrikan kelonggaran kepada sahabat-sahabatnya untuk membaca al-Qur’an lebih dari satu huruf (dialek) sesuai dengan yang diajarkan jibril demi memudahkan umat membaca dan menhafalnya. Tapi kerukunan itu tidak bertahan lama, sekitar 6 tahun setelah Usman menjadi Khalifah (24-36 H). mulai timbul persoalan yang berekor menjadi percekcokkan yang tajam di tengah masyarakat; bahkan antara satu aliran qiraat dengan yang lain saling mengkafirkan karena masing-masing pihak meyakini qiraatnyalah yang benar dan yang lain salah seperti yang terjadi antara penduduk Syam dan Iraq. Terjadinya pertengkaran yang tajam,  seperti itu erat hubungannya dengan makin jauhnya mereka dari masa Nabi, sehingga mereka tidak dapat memahami dan menghayati  dengan baik apa yang membuat qiraat itu bervariasi., Kondisi yang  demikian itu diperburuk lagi oleh makin heterogennya umat karena berbagai suku bangsa berbondong-bondong masuk agama Islam, sedangkan mereka mempunyai latar belakang agama dan kepercaya­an yang berbeda-beda, Dalam kondisi semacam ini, sangat masuk  akal bila timbul pertikaian yang tajam di kalangan mereka sebagai akibat logis dari perbedaan qiraat yang dapat membuat pengertian ayat menjadi rancu.
Setelah menyaksikan keadaan umat yang telah berada di gerbang perpecahan yang amat mengkhawatirkan itu, maka Hudzayfah bin al-Yaman mengusulkan kepada Khalifah Usman agar beliau ber­kenan membentengi umat dari makin melebarnya perpecahan di kalangan mereka dengan menyatukan mereka pada satu mushhaf induk yang akan dijadikan satu-satunya pedoman di seluruh wilayah negara yang pada waktu itu telah membentang luas mulai dari  daerah-daerah Parsia (Iran) di timur sampai ke Afrika utara di barat.
Dan kestabilan politik mulai terancam, dan sebagainya. Oleh karena itu, ia (Usman) menerima dan menghargai ide Hudzayfah untuk membuat satu mushhaf yang dapat dijadikan pedoman bagi umat  dalam membaca dan memahami Alqur’an.
Untuk maksud itu, Khalifah segera meminjam mushhaff Abu Bakar yang disimpan di rumah Hafshah dan berjanji akan mengem balikannya lagi setelah dipakai. Kemudian ia membentuk tim yang diketuai oleh Zayd bin Tsibit dengan anggota-anggota Abd Allah bin Zubayr, Said bin Ash, dan Abd al-HArits bin Hisyarn. Tugas tim ini ialah meneliti kembali ayat-ayat Alqur’an dengan menjadikai Mushhaf Abu Bakar sebagai standar.
Dengan menerapkan criteria yang digariskan Khalifah Usman itu, Maka tim tersebut berhasil membuat beberapa mushaf. Menurut al-Sijistani semuanya berjumlah tujuh buah. Kemudian dikirim ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Basrah, dan Kufah, serta satu disimpan di rumah Khalifah di Madinah.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Pemeliharaan Al-Qur’an dimasa Nabi SAW ada dua cara yaitu menghafal dan menuliskannya.
2.      Pemeliharaa Al-Quran dimasa Abu Bakar siddiq akhirnya Zayd berhasil menghimpun Al-Qur’an dalam bentuk buku.
3.      Pemeliharaa Al-Quran dimasa Usman bin Affan menerima dan menghargai ide hudzayfah untuk membuat satu mushaf yang dapat dijadikan pedoman bagi umat dalam membaca dan memahami Al-Quran.
DAFTAR PUSTAKA
1.      Nashruddin, Baidan, Wawasan baru Ilmu Tafsir, Yogyakarta : Pustaka Setia, 2005.
2.      Abdul Mustaqim, Madzahibut Tasfsir, Peta Metodologi penafsiran al-Qur’an periode klasik hingga Kontemporer.
3.      Fazlur Rahman, Membuka Pintu Ijtihad. Terjemahan Anas Mahyudin, Jakarta : Logos, 1997

Meniti Jalan Menggapai Ridho Allah (Mardlotillah)

Aliran-Aliran Psikologi

ALIRAN-ALIRAN PSIKOLOGI

 

  1. 1.        Aliran Jiwa Psikologi

Tokohnya: John Locke (abad 17). Kemudian aliran ini diikuti oleh David Hume, Hertley John Stuart Mill, dan Herbert Spencer.

  1. Pendirian Psikologi Asosiasi

1)      Dalil pokok: Jika beberapa elemen (unsur) bersama-sama atau berturut-turut masuk ke dalam kesadaran, dengan sendirinya terjadi hubungan antar unsur-unsur itu. Hubungan ini disebut asosiasi.

Ciri-ciri daripada asosiasi itu ialah:

  1. Tiap gejala jiwa tidak lain adalah kumpulan unsur-unsur elemen.
  2. Kekuatan asosiasi tergantung pada banyak kalinya unsur-unsur itu masuk bersama-sama ke dalam kesadaran.
  3. Asosiasi hanya sifat luar saja, asosiasi tidak dapat mengubah sifat masing-masing elemen.[1]

2)      Metode kerja psikologi asosiasi:

Ilmu jiwa asosiasi mengikuti cara kerja ilmu gaya (mekanika) dan darinya di pakai analitis-sintetis dalam kalangan di dalam ilmu jiwa.Analitis: Orang berusaha mengadakan anlisis untuk mengembalikan semua gejala jiwa kepada unsur yang paling sederhana yakni tanggapan segala terjadi sesuatu yang terjadi dalam kesadaran berasal dari elemen-elemen tersebut. Bahkan semua gejala jiwa yang lebih tinggi (misalnya memikir,merasa, menghendaki) dapat dikembali pada tanggapan.Sintetis: Orang berusaha mengadakan sintesis menyusun gejala-gejala jiwa yang lebih pelik dari unsur-unsur pangkal yakni tanggapan.[2]

 

b.   Ciri-ciri Psikologi asosiasi

1)      Ilmu jiwa asosiasi adalah psikologi elemen. Jiwa hanya suatu jumlah atau kumpulan dari pada elemen-elemen. Kesatuan hidup kejiwaan tidak ada. Sampai-sampai D. Hume mengatakan “ Aku adalah seberkas tanggapan.”

2)      Psikologi asosiasi adalah psikologi yang bersifat ilmu pengetahuaan alam. Metode kerja yang dipaakainya adalah metode ilmu pengetahuan alam, analitis-sintetis.

3)      Psikologi asosiasi bersifat kausalistis. Peristiwa peristiwa dalam jiwa diterangkan dengan adanya perangsang- perangsang yang bersifat dari luar. Psikologi ini tidak memperhatikan adanya norma-norma hidup, cita-cita, nilai hidup yang dituju.

4)      Psikologi asosiasi bersifat sensualistis. Gejala mengenal dunia luar dipandang primer, sedangkan gejala merasa dan menghendaki dipandang sekunder.

5)      Psikologi asosiasi bersifat mekanistis. Jiwa dianggap pasif dan dipandang mesin, segala kewajiban dikuasai oleh hukum hukum asosiasi.[3]

 

  1. 2.        Ilmu Jiwa Gestalt

Agak sulit memang untuk menerjemahkan istilah Gestalt ke dalam bahasa lain. Kata Gestalt  berasal dari bahasa Jerman, yang dalam bahasa Inggris berarti form, shape, configuration, whole; dalam bahasa Indonesia berarti “bentuk” atau “konfigurasi”, “hal”, “peristiwa”, “pola”, “totalitas”, atau “bentuk keseluruhan”.[4]

Berbagai istilah bahasa Inggris telah dicoba untuk menerjemahkan istilah Gestalt ini, antara lain Shape Psychology (diajukan oleh Spearman) dan Configurationism(diajukan oleh Titchener). Namun, istilah-istilah tersebut rupanya tidak pas; dalam arti, tidak bisa menggambarkan arti yang sesungguhnya dari istilah itu dalam bahasa Jerman. Sebab itu, istilah Gestalt tetap digunakan sebagaimana adanya dalam bahasa Inggris dan juga oleh kalangan para ahli psikologi di Indonesia.[5]

Aliran yang didirikan oleh Max Wertheimer pada tahun 1912 dan kemudian dikembangkan oleh Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler ini mengkritik teori-teori psikologi yang berlaku di Jerman sebelumnya, terutama teori strukturalisme dari Wilhelm Wundt. Teori Wundt yang khususnya mempelajari proses pengindraan dianggap terlalu elemenistik (terlalu mengutamakan elemen dan detail). Padahal, persepsi manusia terjadi secara menyeluruh, sekaligus dan terorganisasikan, tidak secara parsial atau sepotong-potong. Karena itulah, kata Wertheimer, ketika sebuah melodi terdengar (dipersepsi), sebuah kesatuan dinamis atau keutuhan muncul dalam persepsi. Akan tetapi, nada tersebut dalam dirinya sendiri menyebar dan saling bergantian dalam urutan waktu tertentu. Urutan waktu itu diubah maka Gestalt-nya turut berubah.[6]

Aliran ini pun merupakan proses terhadap pandangan elementaris dan metode kerjanya menganalisis unsur-unsur kejiwaan. Menurut aliran gestalt, yang utama bukanlah elemen tetapi keseluruhan. Kesadaran dan jiwa manusia tidak mungkin dianalisis ke dalam elemen-elemen. Gejala kejiwaan harus dipelajari sebagai suatu keseluruhan atau totalitas. Keseluruhan adalah lebih dari sekedar pejumlahan unsur-unsurnya. Keseluruhan itu lebih dahulu ditanggapi dari bagian-bagiannya, dan bagian-bagian itu harus memperoleh makna dalam keseluruhan.[7]

  1. a.      Ilmu jiwa Gestalt (Gestalt Psychology) timbul sebagai reaksi terhadap elemen psikologi. Pelopor ilmu jiwa ini ialah Von Ehrendels.

Perbedaan

Ilmu Jiwa Asosiasi Ilmu Jiwa Gestalt

 

  1. Semua gejala kejiwaan terjadi dari unsur-unsur yakni tanggapan.
1)      Dalam alat kejiwaan tidak terdapat unsur-unsur melainkan gestalt (keseluruhan).
  1. Bagian-bagian (unsur) itu menjadi suatu proses penggabungan yang disebut asosiasi. Dalam jumlah ini unsur-unsur tetap berdiri sendiri dan jumlah itu benar-benar hanya merupakan gabungan unsur-unsur.

 

2)      Tiap bagian tidak berarti sama sekali; baru mempunyai arti kalau bersatuan. Tiap bentuk tertentu dari kesatuan itu disebut Gestalt.

 

 

  1. b.      Aliran-aliran Ilmu Jiwa Gestalt
    1. Aliran Berlin:

Wertheimer merumuskan teori gestalt dengan cara modern. Percobaan yang dijalankannya adalah mengenal pengamatan dan penglihatan. Dalam bukunya yang berjudul Ueber Gestalt Theori, Wertheimer mengemukakan tentang asas-asas teori Gestalt sebagai berikut:[8]

  1. Jumlah

Garis-garis ini merupakan unsur. Kalau garis-garis ini ditempatkan berjajar empat, maka keempat garis itu merupakan jumlah. Jadi jumlah merupakan kumpulan dari beberapa jumlah.

 

__________      __________      __________      __________

 

  1. Kompleks

Kita menempatkan 4 potong garis berjajar dan 4 garis lengkung yang masing-masing merupakan seperempat lingkaran. Akhirnya terdapat 2 kelompok jumlah, yakni jumlah garis lengkung. Tiap golongan mempunyai ciri jumlah. Dalam penggabungan terdapat barang baru yakni kompleks. Kompleks merupakan kumpulan dari beberapa jumlah yang belum tersusun.

 

 

 

 

  1. Struktur

Keempat garis tersebut ditempatkan dengan cara tersusun. Dalam susunan ini ada hubungan tertentu. Melihat susunan unsur-unsur itu orang tidak akan melihat garis-garis sebagai unsur satu per satu, dan tidak akan membuang unsur-unsurnya satu demi satu, melainkan cenderung menemukan susunan tertentu. Susuan dari suatu jumlah unsur disebut sttruktur/bentuk.

 

 

 

__________                              __________

 

__________

__________

 

  1. Gestalt:

Kalau keempat garis lengkung seperempat lingkaran itu kita tempatkan sebagaimana mestinya dengan cara tertentu maka terjadilah suatu gestalt seperti tampak pada gambar. Kumpulan garis lengkung ini bukan lagi sebagai jumlah kompleks atau struktur, tetapi mewujudkan gestalt (lingkaran) yang mempunyai sifat-sifat tertentu.

 

 

 

 

  1. Gestalt tersusun:

Kalau keempat garis lurus dan empat garis lengkung kita jadikan satu, akan terlihat bahwa ada barang baru yang lain sekali dengan jumlah garis lengkung. Ini merupakan gestalt tersusun, yakni susunan dari struktur dan gestalt dalam suatu bentuk yang berarti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Koffka berpendapat bahwa gestalt psikologi sebagai psikologi pertumbuhan. Dia menguraikan hal itu dalam bukunya Die Grundlagen der Psichis en Entvickling. Dia menyelidiki dan mencari asas-asas pertumbuhan dalam ilmu jiwa anak. Juga mempelajari pertumbuhan gestalt yang mula-mula sangat sederhana dan kemudian menjadi gestalt yang sempurna seperti terdapat pada orang dewasa.[9]

Kohler menguraikan tentang perbuatan seekor simpanan dalam rangka menyelidiki kecerdasan binatang. Dengan percobaan itu Kohler mengatakan bahwa peristiwa terjadinya hubungan antara simpanse – tongkat – pisang merupakan suatu gestalt.[10]

 

  1. Aliran Leipzig

Pendapat-pendapat aliran Leipzig:

  1. Dalam tiap pribadi sebagai suatu Ganzeit hidup (kejiwaan) suatu pendorong untuk mempersatukan, dengan adanya dorongan itu orang tidak pernah menerima bagian-bagian tersendiri. Segala sesuatu diterima oleh keseluruhan batinnya dalam bentuk kesatuan.
  2. Kesatuan hidup kejiwaan terutama terletak pada perasaan. Segala sesuatu yang pada suatu ketika ada dalam alam kejiwaan tersembunyi dalam perasaan, sebab di dalam perasaan terkandung seluruh hidup  kejiwaan.[11]

 

  1. 3.        Aliran Behaviorisme

Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Fredericas Skinner. Sama halnya dengan psikoanalisis, behaviorisme juga merupakan aliran yang revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Sejumlah filssuf dan ilmuan sebelum Watson, dalam satu dan lain bentuk, telah mengajukan gagasan-gagasan mengenai pendekatan objektif dalam mempelajari manusia, berdasarkan pendekatanyang mekanistik dan materialistik, suatu pendekatan yang menjadi ciri utama dari behaviorisme. Seorang di antaranya adalah Ivan Pavlov (1849-1936), seorang ahli filsuf Rusia.[12]

 

 

Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalistis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, kaum behavioris lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku-perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Tentu saja, behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan.[13]

Berkenaan dengan teori belajar ini, menurut Bandura (1977), sejak masa kanak-kanaknya, manusia sudah mempelajari berbagai tata-cara berperilaku sedemikian rupa, sehingga ia tidak canggung dan serbasalah menghadapi teori belajar sebelumnya, Bandura mengatakan bahwa manusia tidak perlu mengalami atau melakukan sesuatu terlebih dahulu, sebelum ia mempelajari sesuatu. Manusia dapat belajar hanya dari mengamati atau meniru perilaku orang lain.[14]

Aliran behaviorisme kuat berorientasi pada ilmu alam; dan sesuai dengan psikologi-asosiasi, ia selalu mencari elemen-elemen tingkah laku yang paling sederhana, yaitu refleks. Aliran behaviorisme menyatakan, bahwa semua tingkah laku manusia itu bisa ditelusuri asalnya dari bentuk refleks-refleks. Refleks adalh reaksi-reaksi yang tidak disadari terhadap perangsang-perangsang tertentu.[15]

  1. a.      Ciri-ciri Utama aliran Behaviorisme

1)        Aliran ini mempelajari perbuatan manusia bukan dari kesadarannya, melainkan hanya mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan kenyataan. Pengalaman batin dikesampingkan. Dan hanya perubahan dan gerak-gerik pada badan sajalah yang dipelajari. Maka sering dikatakan bahwa behaviorisme adalah ilmu jiwa tanpa jiwa.

2)        Segala macam perbuatan dikembalikan pada refleks. Behaviorisme mencari unsur-unsur yang paling sederhana yakni perbuatan-perbuatan bukan kesadaran, yang dinamakan refleks. Refleks adalah reaksi yang tidak disadari terhadap ssuatu perangsang. Manusia dianggap suatu kompleks refleks atau suatu mesin reaksi.

 

3)        Behaviorisme berpendapat bahwa pada waktu dilahirkan semua orang adalah sama. Menurut Behaviorisme pendidikan dalah mahakuasa. Manusia hanya makhluk yang berkembang karena kebiasaan-kebiasaan, dan pendidikan dapat mempengaruhi refleks sekehendak hatinya.[16]

  1. b.      Pendapat-pendapat Para Pengikut Behaviorisme

1)      James adalah perintis jalan filsafat pragmatisme. Pandangannya tentang filsafat dan psikologi ditulis dalam bukunya Principles of Psychology. Adapun pokok ajaran Pragmatisme itu ialah:[17]

  1. Tiap berpikir mengandung maksud tertentu, yaitu menyempurnakan hidup.
  2. Segala kenyataan bersifat pragmatis, yakni mengandung maksud tertentu, dan kenyataan itu hanya berarti kalu ada faedahnya dari manusia.
  3. Nilai pengetahuan manusia harus diuji pada kehidupan yang praktis. Benar tidaknya sesuatu pikiran itu dapat dilihat dari dapat tidaknya pikiran itu dipraktikkan, dan terbukti atau tidaknya maksud yang dikandung di dalamnya.
  4. Semboyan kaum behaviorisme: The truth is in the making. Benar ialah apa yang dalam praktik  ternyata tepat dan menguntungkan. Tidak benar, ialah apa yang dalam praktik tidak memberi hasil.

Misalnya: kalau anasir agama terbukti membawa kebahagiaan, dapatlah dikatakan bahwa agama itu benar. Filsafat pragmatisme ini kemudian diikuti oleh John Dewey (murid James).

 

Psikologi James:[18]

  1. Manusia adalah makhluk reaksi. Semua perangsang dari luar bmenyebabkan timbulnya reaksi-reaksi itu. Reaksi-reaksi tersebut dapat dibedakan reaksi pembawaan dan reaksi yang diperoleh.
  2. James mengutamakan unsur-unsur motoris, yang dipandang mempunyai arti penting. Unsur-unsur yang terpenting dari perbuatan bukanlah bayang-bayang dunia luar seperti ilmu jiwa asosiasi, melainkan refleks sensomotoris, yakni penerimaan perangsang dari dunia luar itu ditambah dengan reaksi yang berwujud gerakan-gerakan.
  3. James menghargai pendirian biologis. Semua peristiwa mengenal, merasakan, dan menghendaki adalah untuk berbuat dan bergerak.
  4. James menentang ilmu jiwa unsur. Manusia dipandangnya sebagai organisme (jasad) yang beraksi seluruhnya terhadap perangsang-perangsang.

 

2)      Mac Dougall:

Sebagai ahli jiwa, Mac Dougall mempelajari masalah insting sedalam-dalamnya. Insting dipandang sebagai pendorong dalam segala sesuatu kegiatan. Ia memandang ilmu jiwa sebagai ilmu yang mempelajari gerak perbuatan dan tingkah laku hewan dan manusia. Namun demikian, ia kadang-kadang menyerang sifat-sifat mekanistis dan behaviorisme.[19]

3)      Thorndike:

Dia adalah pengikut behaviorisme yang tidak radikal. Pendapat-pendapatnya ditulis dalam Animal Intelligence dan Educational Psychology.[20]Thordike berpendapat bahwa semua tingkah laku binatang itu bisa dijabarkan menjadi reaksi-reaksi tetap terhadap perangsang-perangsang tertentu, yaitu dijabarkan dari atau menjadi refleks-refleks.[21]

4)      Watson:

Dia adalah pengikut behaviorisme yang radikal. Sejak tahun 1912 Watson ingin meninggalkan ilmu jiwa empiris dan hendak membentuk ilmu jiwa baru, yaitu ilmu jiwa yang berdasarkan pada ilmu pengetahuan alam dengan bukti-bukti yang nyata. Pandangan Watson tentang psikologi ialah: perbuatan dipandang sebagai suatu reaksi organisme hidup yakni reaksi terhadap perangsang dari luar. Reaksi-reaksi itu terdiri atas gerakan-gerakan yang tertentu dan perubahan-perubahan dalam tubuh. Kesemuanya itu dapat dinyatakan secara objektif. Hanya perbuatanlah yang dapat diselidiki secara positif.[22]

 

 

 

 

 

  1. 4.        Aliran Ilmu Jiwa Pikir

Ilmu jiwa pikir termasuk ilmu jiwa baru. Ilmu ini mempelajari kesadaran tingkat tinggi atau kesadaran yang tidak dapat diragukan. Aliran yang termasuk dalam ilmu jiwa pikir ini ialah:[23]

  1. Aliran Wurzburg
  2. Aliran Keulen
  3. Aliran Manheim
  4. Aliran Amsterdam

 

  1. a.      Aliran Wurzburg

Tokoh: Oswald Kulpe (murid Wundt).

Pengikutnya: Ach. Buhler, Marbe dan Messer.

Kulpe mendirikan laboratorium dan mengadakan pendidikan tentang peristiwa-peristiwa kejiwaan. Sejalan dengan penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan, Kulpe mendirikan aliran baru yang disebut Wurzburger-Schule. Tugas aliran tersebut ialah mempelajari proses kejiwaan yang bernilai tinggi yakni berpikir dan kehendak, di mana hal itu sebelumnya orang kurang memperhatikannya. Untuk menyelidiki dan mempelajari proses berpikir Kulpe menggunakan metode instropeksi dan eksperimen.[24]

Dari hasil eksperimen yang diperoleh, Kulpe mengemukakan dalil-dalil berikut:[25]

  1. Dalam isi kesadaran ada bagian yang tidak dapat dinyatakan.
  2. Dalam berpikir, AKU (pribadi) memegang peranan penting.
  3. Berpikir mempunyai corak yang menentukan dan mempunyai tujuan tertentu.

 

  1. b.      Aliran Keulen

Tokohnya: Lindworsky.

Pengikut: Frohn, Sassenfeld, dan Schafer. Mereka melanjutkan pendidikan yang dijalankan oleh ahli-ahli di Wurzburg.Penyelidikan dilaksanakan dengan menggunakan metode eksperimen terhadap pikiran anak-anak yang bisu dan tuli.[26]

Hasil penyelidikan Frohn dan kawan-kawannya itu ialah:[27]

  1. Bahwa pada manusia terdapat beberapa tingkat kesadaran ( tingkat berpikir ), yaitu :
  • Tingkat berpikir konkret
  • Tingkat berpikir skematis
  • Tingkat berpikir abstrak
  1. Semua tingkat memegang peranan berganti-ganti dalam alam kejiwaan. Pikiran tidak selalu tetap pada salah satu tingkat akan tetapi selalu berpindah-pindah.Orang-orang dewasa yang normal pada umumnya dapat berpikir abstrak. Ada kalanya tingkat yang lebih rendah masih memegang peranan, tetapi sebaliknya dapat menghabat. Misalnya: seseorang menghadapi masalah baru yang sulit. Kalau hal yang abstak itu tidak dapat di pecahkan ada kalanya pikiran di turunkan ketingkat skematis atau tingkat konkret. Dengan jalan demikian mungkin hal-hal yang abstrak dapat di pecahkan dengan bantuan gambaran-gambaran konkrit maupun skematis.
  2. Anak-anak kecil, anak-anak terbelakang dan anak-anak bisu dan tuli tidak dapat melepaskan diri dari bayang-bayang yang konkrit.

 

  1. c.       Aliran Manhein

Tokohnya: Otto Selsz. Dia mempelajari peranan tanggapan dalam proses berpikir. Dari hasil penelitian tersebut Otto Selsz mengemukakan beberapa pendapat:[28]

1)      Peranan tanggapan dalam proses berpikir:

  1. Tanggapan yang konkret tidak mempunyai pengaruh sama sekali.
  2. Tanggapan konkret tidak melancarkan dan tidak menghambat jalan pikiran.

2)      Proses berpikir menurut Otto Selsz:

  1. Berpikir adalah proses ke arah tujuan yang tertentu.
  2. Berpikir adalah suatu perbuatan yang abstrak dengan arah yang ditentukan oleh soal yang harus dipecahkan.
  3. Berpikir adalah mempraktekan metode-metode penyelesaian.

 

  1. d.      Aliran Amsterdam

Tokohnya: Kohnstamm. Dia mempraktikkan hasil-hasil penyelidikan ilmu jiwa pikir di dalam pendidikan dan pengajaran. Selain itu beliau mengadakan penyelidikan yang bersifat eksperimental suatu metode yang ditentukan oleh macam tugas dan didaktis khususnya yang berhubungan dengan pengajaran rendah.[29]

Kohnstamm merumuskan asas-asas didaktik sebagai berikut:[30]

1)      Salah satu dari kewajiban sekolah yang rendah yang terpenting ialah mengajar anak-anak berpikir dengan tanggung jawab sendiri, dan hal itu harus dilaksanakan dalam taip mata pelajaran.

Untuk dapat berpikir,anak membutuhkan:

  1. Parate kennis, yaitu pengetahuan yang sewaktu-waktu siap untuk digunakan.
  2. Pengertian yang berisi, yakni pengertian yang jelas dan berguna.
  3. Kecakapan memakai metode-metode pemecahan soal dapat membentuk skema yang menambah kemungkinan berpikir berturut-turut.
  4. Adanya tuga berpikir ialah soal-soal yang mendorong dan memberi arah kepada gerak pikiran.

2)      Membaca dalam hati: adalah penting untuk latian berpikir. Pelajaran membaca dalam hati memberi kemungkinan untuk mengajukan persoalan-persoalan kecil yang dapat membangkitkan perhatian anak dan mengaktifkan jiwa anak.Dengan membaca dalam hati anak mendapat kesmpatan berpikir bebas. Membaca dalam hati dapat digunakan sebagai tes kecerdasan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan

  1. 1.        Aliran Jiwa Psikologi

Tokohnya: John Locke (abad 17). Kemudian aliran ini diikuti oleh David Hume, Hertley John Stuart Mill, dan Herbert Spencer.Jika beberapa elemen (unsur) bersama-sama atau berturut-turut masuk ke dalam kesadaran, dengan sendirinya terjadi hubungan antar unsur-unsur itu. Hubungan ini disebut asosiasi.Ilmu jiwa asosiasi mengikuti cara kerja ilmu gaya (mekanika) dan darinya di pakai analitis-sintetis dalam kalangan di dalam ilmu jiwa.

  1. 2.        Aliran Jiwa Gestalt

Aliran yang didirikan oleh Max Wertheimer pada tahun 1912 dan kemudian dikembangkan oleh Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler ini mengkritik teori-teori psikologi yang berlaku di Jerman sebelumnya, terutama teori strukturalisme dari Wilhelm Wundt. Teori Wundt yang khususnya mempelajari proses pengindraan dianggap terlalu elemenistik (terlalu mengutamakan elemen dan detail). Padahal, persepsi manusia terjadi secara menyeluruh, sekaligus dan terorganisasikan, tidak secara parsial atau sepotong-potong. Karena itulah, kata Wertheimer, ketika sebuah melodi terdengar (dipersepsi), sebuah kesatuan dinamis atau keutuhan muncul dalam persepsi. Akan tetapi, nada tersebut dalam dirinya sendiri menyebar dan saling bergantian dalam urutan waktu tertentu. Urutan waktu itu diubah maka Gestalt-nya turut berubah.

  1. 3.        Aliran Behaviorisme

Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Fredericas Skinner. Sama halnya dengan psikoanalisis, behaviorisme juga merupakan aliran yang revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Sejumlah filssuf dan ilmuan sebelum Watson, dalam satu dan lain bentuk, telah mengajukan gagasan-gagasan mengenai pendekatan objektif dalam mempelajari manusia, berdasarkan pendekatanyang mekanistik dan materialistik, suatu pendekatan yang menjadi ciri utama dari behaviorisme. Seorang di antaranya adalah Ivan Pavlov (1849-1936), seorang ahli filsuf Rusia.

  1. 4.        Aliran Jiwa Ilmu Pikir

Ilmu jiwa pikir termasuk ilmu jiwa baru. Ilmu ini mempelajari kesadaran tingkat tinggi atau kesadaran yang tidak dapat diragukan. Aliran yang termasuk dalam ilmu jiwa pikir ini ialah:

  1. Aliran Wurzburg
  2. Aliran Keulen
  3. Aliran Manheim
  4. Aliran Amsterdam


[1] Abu Ahmadi, Psikologi Umum, (Jakarata: PT Rineka Cipta, 2009), hal. 47

[2]Ibid.

[3]Ibid., hal. 47-48

[4]Alex Sobur, Psikologi Umum Dalam Lintas Sejarah, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hal. 116

[5]Ibid.

[6]Ibid., hal. 116-117

[7] Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hal. 26-27

[8] Ahmadi, loc. cit., hal. 49-50

[9]Ibid., hal. 50

[10]Ibid.

[11]Ibid., hal. 51

[12] Sobur, op. cit., hal. 121

[13]Ibid., hal. 122

[14]Ibid.

[15]Kartini Kartono, Psikologi Umum, (Bandung: Penerbit Mandar Maju, 1996), hal. 152

[16] Ahmadi, loc. cit., hal. 51

[17]Ibid., hal.51-52

[18]Ibid., hal. 52

[19]Ibid., hal. 53

[20]Ibid.

[21] Kartono, op. cit., hal.157

[22]Ahmadi, op.cit., hal. 53

[23]Ibid.

[24]Ibid., hal. 54

[25]Ibid.

[26]Ibid.

[27]Ibid., hal. 54-55

[28]Ibid.

[29]Ibid., hal. 55-56

[30]Ibid., hal. 56

Kerajaan Turki Utsmani

 BAB I

Pendahuluan

Dinasti Turki Usmani merupakan kekhalifahan yang cukup besar dalam Islam dan memiliki pengaruh cukup signifikan dalam perkembangan wilayah Isalm di Asia, Afrika, dan Eropa. Bangsa Turki memiliki peran yang sangat penting dalam perkrmbangan peradaban Islam. Peran yang paling menonjol terlihat dalam birokrasi pemerintahan yang bekerja untuk  para khalifah Bani Abbasiyah. Kemudian mereka sendiri membangun kekuasaan yang sekalipun independen, tetapi masih tetap mengaku loyal kepada khalifah Bani Abbasiyah. Hal tersebut  ditunjukkan dengan munculnya Bani Saljuk.[1]

Munculnya dinasti Usmani di Turki terjadi pada saat dunia Islam mengalami fragmentasi kekuasaan pada periode kedua dari pemerintahan Abbasiyah (kira-kira abad ke-9). Sebelum itu, sekalipun telah ada kekuasaan Bani Umayyah di Andalusia dan semakin Bani Idris di bagian Afrika Utara, fregmentasi itu semakin menjadi sejak abad ke-9 M. Pada abad itu muncul berbagai dinasti seperti Bani Aghlab di Kairawan, Bani Thulun di Mesir, Bani Saman di Bukhara dan Bani Buwaih di Baghdad dan Syiraz.[2]

Kerajaan Usmani (Ottoman) berkuasa secara meluas di Asia Kecil sejak munculnya pembina dinasti itu yaitu Ottoman, pada tahun 1306 M. Golongan Ottoman mengambil nama mereka dari Usman I (1290-1326 M), pendiri kerajaan ini dan keturunannya berkuasa sampai 1922. Di antara negara muslim, Turki Usmani yang dapat mendirikan kerajaan yang paling besar serta paling lama berkuasa. Pada masa Sultan Usman, orang Turki bukan hanya merebut negara-negara Arab, tetapi juga seluruh daerah antara Kaukasus dan kota Wina. Dari Istambul, ibu kota kerajaan itu, mereka menguasai daerah-daerah di sekitar laut tengah dan berabad-abad lamanya Turki merupakan faktor penting dalam perhitungan ahli-ahli politik di Eropa Barat. Dinasti Turki Usmani merupakan kekhalifahan Islam yang mempunyai pengaruh besar dalam perdaban di dunia Islam.[3]

 

BAB II

Pembahasan

  1. A.    Sejarah Berdirinya Kerajaan Usmani

Nama kerajaan Turki Usmani diambil dan dibangsakan kepada nenek moyang mereka yang pertama, Sultan Utsmani Ibnu Sauji Ibnu Orthogol Ibnu Sulaiman Syah Ibnu Kia Alp, kepala kabilah Kab di Asia Tengah.[4] Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah  Oghus yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina. Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Iraq. Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh, ketika mereka menetap di Asia Tengah. Di bawah tekanan serangan-serangan Mongol pada abad ke-13 M, mereka melarikan diri ke daerah barat dan mencari tempat pengungsian di tengah-tengah saudara-saudara mereka, orang-orang Turki Seljuk, di dataran tinggi Asia Kecil. Di sana, di bawah pimpinan Erthogul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin II, Sultan Seljuk yang kebetulan sedang berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin mendapat kemenangan. Atas jasa baik itu, Alauddin menghadiahkan sebidang tanah di Asia Kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu, mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibu kota.[5]

Erthoghul meninggal dunia tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Usman. Putra Erthogul  inilah yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Usmani, Usman memerintah antara tahun 1290 M dan1326 M. Sebagaimana ayahnya, ia banyak berjasa  kepada Sultan Alauddin II dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa. Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Seljuk dan Sultan Alauddin terbunuh. Kerajaan Seljuk Rum ini terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil. Usman pun menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah, kerajaan Usmani dinyatakan berdiri. Penguasa pertamanya adalah Usman yang sering di sebut juga Usman I.[6]

Setelah Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al Usman (raja besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M), setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukan kota Broessa tahun 1317 M, kemudian, pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu kota kerajaan. Pada masa pemerintahan Orkhan (726 H/1326 M-761 H/1359 M) Kerajaan Turki Usmani ini dapat menaklukkan Azmir (Smirna) tahun 1327 M, Thawasyanli (1330 M), Uskandar (1338 M), Ankara (1354 M), dan Gallipoli (1356 M). Daerah ini adalah bagian benua Eroopa yang pertama kali diduduki kerajaan Usmani.[7]

Ketika Murad I, pengganti Orkhan, berkuasa (761 H/1359 M-789 H/1389 M), selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke Benua Eropa. Ia dapat menaklukkan Adrianopel yang kemudian dijadikannya ibu kota kerajaan baru, Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani. Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Usmani. Pasukan ini dipimpin oleh Sijisman, raja Hongaria. Namun, Sultan Bayazid I (1389-1402 M), pengganti Murad I, dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa tersebut. Peristiwa ini merupakan cacatan sejarah yang amat gemilang bagi umat Islam.[8]

Ekspansi kerajaan Usmani sempat terhenti beberapa lama. Ketika ekspansi diarahkan ke Konstantinopel, tentara Mongol yang dipimpin Timur Lenk melakukan serangan ke Asia Kecil. Pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M. Tentara Turki Usmani mengalami kekalahan. Bayazid bersama putranya, Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M. Kekelahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Usmani. Penguasa-penguasa Seljuk di Asia Kecil melepaskan diri dari genggaman Turki Usmani. Wilayah-wilayah Serbia dan Bulgaria juga memproklamasikan kemerdekaan. Dalam pada itu, putra-putra Bayazid saling berebut kekuasaan. Suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I (1403-1421 M) dapat mengatasinya. Sultan Muhammad berusaha keras menyatukan negaranya dan mengembalikan kekuatan dan kekuasaan seperti sediakala.[9]

Setelah Timur Lenk meninggal dunia tahun 1405 M, kesultanan Mongol dipecah dan dibagi-bagi kepada putra-putranya yang satu sama lain saling berselisih. Kondisi ini dimanfaatkan oleh penguasa Turki Usmani untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mongol. Namun, pada saat seperti itu juga terjadi perselisihan antara putra-putra Bayazid (Muhammad, Isa, Dan Sulaiman). Setelah perebutan kekuasaan terjadi, akhirnya Muhammad berhasil mengalahkan saudara-saudaranya. Usaha Muhammad yang pertama kali ialah mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negri. Usahanya ini diteruskan Murad II (1421-1451 M), sehingga Turki Usmani mencapai puncak kemajuannya pada masa Muhammad II atau biasa disebut Muhammad Al-Fatih (1451-1484 M).[10]

Sultan Muhammad Al-Fatih dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat Kerajaan Bizantium, lebih mudahlah arus ekspansi Turki Usmani ke Benua Eropa. Akan tetapi ketika Sultan Salim I (1512-1520 M) naik tahta, ia mengalihkan perhatian ke arah timur dengan menaklukkan Persia, Syiria, dan dinasti Mamalik di Mesir. Usaha Sultan Salim I ini di kembangkan oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566 M). Ia tidak mengarahkan ekspansinya ke salah satu ke arah timur atau barat, tetapi seluruh wilayah yang berada di sekitar Turki Usamani merupakan obyek yang menggoda hatinya. Sulaiman berhasil menundukkan Irak, Belgrado, Pulau Rodhes, Tunis, Budapes, dan Yaman. Dengan demikian, luas wilayah Turki Usmani pada masa Sultan Sulaiman Al-Qanuni mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Syiria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libia, Tunis, dan Al-Jazair di Afrika; Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, dan Rumania di Eropa.[11]

Setelan Sultan Sulaiman meninggal dunia, terjadilah perebutan kekuasaan antara putra-putranya, yang menyebabkan Kerajaan Turki Usmani mundur. Akan tetapi, meskipun mengalami kemunduran, kerajaan ini untuk masa beberapa abad masih dipandang sebagai negara yang kuat, terutama dalam bidang militer.[12]

Kejayaan Turki Usmani dialami pada abad ke-16, ketika Dinasti Turki Usmani mencapai kejayaannya sehingga daerah kekuasaannya itu membentang dari selat Persia di Asia sampai ke pintu gerbang kota Wina di Eropa dan dari laut Gaspienne di Asia sampai ke Al-Jazair di Afrika Barat. Penduduk Dinasti Turki Usmani terdiri dari bangsa Eropa yang berasal dari Hongaria bahkan yang beragama Nasrani dan mereka ini pula yang melanjutkan pengaruh Barat menjangkit kepada minoritas Turki yang ada di tempat itu. Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Turki Usmani yang demikian luas dan berlangsung dengan cepat itu diikuti pula oleh kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam aspek peradabannya.[13]

  1. B.     Penaklukkan Konstantinopel

Konstantinopel adalah ibu kota Bizantium dan merupakan pusat agama Kristen. Ibu kota Bizantium itu akhirnya dapat ditaklukkan oleh pasukan Islam di bawah Turki Usmani pada masa pemerintahan Sultan Muhammad II yang bergelar Al-Fatih, artinya sang penakluk. Telah berkali-kali pasukan kaum muslimin sejak masa Dinasti Umayyah berusaha menaklukkan Konstantinopel, tetapi selalu gagal karena kokohnya benteng-benteng di kota tua itu. Baru pada tahun 1453 M kota itu dapat ditundukkan. Sultan mempersiapkan penaklukkan terhadap kota Konstantinopel dengan penuh keseriusan. Dipelajari penyebab kegagalan dalam penaklukkan-penaklukkan sebelumnya. Sultan tidak mau lagi kalah sebagaimana pendahulunya. Ia terlebih dahulu membereskan wilayah-wilayah yang membangkang di Asia Kecil. Datanglah kesempatan yang dinanti-nanti, yakni ketika kaisar Konstantin IX mengancam Sultan untuk membayar pajak yang tinggi kepada pihaknya, dan jika tidak tunduk pada perintah tersebut maka akan diganggu kedudukannya dengan menundukkan Orkhan, salah seorang cucu Sulaiman, sebagai Sultan. Ancaman tersebut dihadapi dengan kebulatan tekad, yakni membuat benteng-benteng di sekeliling Konstantinopel. Sultan berkilah bahwa benteng-benteng itu dibangun untuk melindungi dan mengawasi rakyatnya yang lalu lalang ke Eropa melalui wilayah Bosporos itu.[14]

Konstantinopel akhirnya dapat dikepung dari segala penjuru oleh pasukan Sultan Muhammad II yang berjumlah kira-kira 250.000 di bawah pimpinan Sultan sendiri. Kaisar Bizantium meminta bantuan kepada Paus di Roma dan raja-raja Kristen di Eropa, tetapi tanpa hasil, bahkan ia dicemooh oleh rakyatnya sendiri karena merendahkan martabatnya. Raja-raja Eropa juga tidak ingin membantunya karena mereka ada perselisihan yang belum terselesaikan. Hanya pasukan Vinicia yang ingin membantu karena memiliki kepentingan dagang di wilayah Usmani. Tentara Vinicia merintangi kapal-kapal Usmani dengan merentangkan rantai besar di selat Busporus. Sultan tidak kehilangan akal, dinaikkanlah kapal-kapal itu di daratan dengan menggunakan balok-balok kayu untuk landasannya, dan berhasil memindahkannya ke sisi barat kota. Maka terperanjatlah pasukan Bizantium dengan srategi Sultan yang telah mengepung  kota selama 53 hari. Dalam masa itu meriam-meriam Turki dimuntahkan ke arah kota dan menghancurkan benteng-benteng dan dinding-dindingnya sehingga menyerahlah Konstantinopel pada tanggal 28 Mei 1453. Dalam pertempuran itu Kaisar mati terbunuh, dan Konstantinopel jatuh ke tangan Usmani. Sultan Muhammad II memasuki kota, kemudian menggati nama Konstantinopel menjadi Istambul, dan menjadikannya sebagai ibu kota. Sultan mengubah gereja Aya Shopia menjadi masjid, dan di samping itu ia membangun masjid dengan nama Masjid Muhammad sebagai peringatan bagi keberhasilannya dalam menundukkan kota itu.[15]

Dengan jatuhnya Konstantinopel, pengaruhnya sangat besar bagi Turki Usmani. Konstantinopel adalah kota pusat kerajaan Bizantium yang menyimpan banyak ilmu pengetahuan dan menjadi pusat agama Kristen Ortodoks. Kesemuanya itu diwariskan kepada Usmani. Dari segi letak kota itu sangat srategis karena menghubungkan dua benua secara langsung, Eropa dan Asia. Penaklukkan kota itu memudahkan mobilisasi pasukan dari Anatolia ke Eropa. Walaupun para Sultan Usmani setelah Sulaiman yang Agung pada umumnya lemah, tetapi serangan terhadap terhadap Eropa masih berlangsung terutama untuk menaklukkan kota Wina di Austria. Kota Wina itu dikepung berkali-kali, tetapi tidak dapat dilakukan. Yang terakhir kali kota Wina di Austria dikepung oleh pasukan Usmani pada tahun 1683, namun tanpa hasil yang memuaskan.[16]

  1. C.    Peradaban Islam di Turki

Sejak masa Usman bin Artaghol (1299-1326 M), yang dianggap pembina pertama Kerajaan Turki Usamani dengan nama imperium Ottoman, timbullah kemajuan dalam berbagai bidang agama Islam. Turki membawa pengaruh cukup baik dalam bidang ekspansi agama Islam ke Eropa. Kemajuan lainnya antara lain dalam bidang militer dan pemerintahan, bidang ilmu pengetahuan dan budaya, serta dalam bidang keagamaan. Dalam perkembangannya Turki cukup berpengaruh dalam bidang peradaban Islam, dengan corak peradaban yang khas. Pengaruh budaya tersebut sampai ke berbagai wilayah Turki Usmani yang wilayahnya begitu luas dalam dunia Islam.[17]

  1. Bidang Pemerintahan dan Militer

Para pemimpin Kerajaan Usmani pada masa-masa pertama adalah orang-orang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Meskipun demikian, kemajuan Kerajaan Usmani sehingga mencapai masa keemasannya itu, bukan semata-mata karena keunggulan politik para pemimpinnya. Masih banyak faktor lain yang mendukung keberhasilan ekspansi itu. Yang terpenting diantaranya adalah keberanian, keterampilan, ketangguhan, dan kekuatan militernya yang sanggup bertempur kapan saja. Kekuatan militer kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan teratur ketika terjadi kontak senjata dengan Eropa. Pengorganisasian yang baik dan srategi tempur militer Usmani berlangsung dengan baik. Pembaruan dalam tubuh organisasi militer oleo Orkhan sangat berarti bagi pembaruan militer Turki. Bangsa-bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam dijadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Yeniseri atau Inkisyariah. Pasukan inilalah yang dapat mengubah Kerajaan Usamani menjadi mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukan negeri-negeri non-muslim di timur yang berhasil dengan sukses.[18]

Di samping Yenisseri, ada lagi prajurit dari tentara kaum feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat. Pasukan ini disebut tentara atau kelompok militer Thaujiah. Angkatan laut pun dibenahi, karena ia memiliki peranan besar dalam perjalanan ekspansi Turki Usmani. Pada abad ke-16 angkatan laut Turki Usamani mencapai puncak kejayaannya. Kekeuatan militer Turki Usamani yang tangguh itu denagn cepat dapat menguasai wilayah yang sangat luas, baik di Asia, Afrika, maupun Eropa. Faktor utama yang mendorong kemajuan di lapangan militer ini ialah tabiat TUrki itu sendiri yang bersifat militer, berdisiplin, dan patuh terhadap peraturan. Tabiat ini merupakan tabiat alami yang mereka warisi dari nenek moyangnya di Asia Tengah. Keberhasilan ekspansi tersebut diberengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam mengelola pemerintahan yang luas, sultan-sultan Turki Usamani senantiasa bertindak tegas. Dalam sruktur pemerintahan, Sultan sebagai penguasa tertinggi, dibantu oleh Shadr Al-‘Azham (perdana menteri) yang membawahi Pasya (gubernur). Gubernur mengepalai daerah tingkta I. Di bawahnya terdapat beberapa orang Az-Zanaziq (bupati).[19]

Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, di masa Sultan Sulaiman I disusun sebuah kitab Undang-Undang (qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa Ql-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Usamani sampai datangnya refomasi pada abad ke-19. Karena jasa Sultan Sulaiman I yang amat berharga ini, di ujung namanya ditambah gelar Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Kemajuan dalam bidang kemiliteran dan pemerintahan ini membawa Dinasti Turki Usamani menjadi sebuah negara yang cukup disegani pada masa kejayaannya.[20]

  1. Bidang Imu Pengetahuan

Peradaban Turki Usamani merupakan perpaduan bermacam-macam peradaban, diantaranya adalah peradaban Persia, Bizantium, dan Arab. Dari peradaban Persia, mereka banyak mengambil ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Organisasi pemerintahan dan kemiliteran banyak mereka serap dari Bizantium. Sekarang ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial, kemasyarakatan dan keilmuan mereka terima dari orang-orang Turki Usmani yang dikenal sebagai bangsa yang senang dan mudah berasimilasi dengan bangsa asing dan terbuka untuk menerima kebudayaan dari luar.[21]

Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Usmani lebih banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan mereka tampak tidak begitu menonjol. Karena itulah dalam khazanah intelektual Islam kita tidak menemukan ilmuwan terkemuka dari Turki Usmani.[22]

  1. Bidang Kebudayaan

Dinasti Usmani di Turki, telah membawa peradaban Islam menjadi peradaban yang cukup maju pada zaman kemajuannya. Dalam bidang kebudayaan Turki Usmani banyak muncul tokoh-tokoh penting seperti yang terlihat pada abad ke-16, 17, dan 18. Antara lain abad ke-17, muncul penyair yang terkenal yaitu Nafi’ (1582-1636 M). Nafi’ bekerja untuk Murad Pasya dengan menghasilkan karya-karya sastra Kaside yang mendapat di hati parea Sultan.Di antara penulis yang membawa pengaruh Persi ke dalam istana Usmani adalah Yusuf Nabi (1642-1712 M), ia muncul sebagai juru tulis bagi Musahif Mustafa, salah seorang menteri Persia dan ilmu-ilmu agama. Yusuf Nabi menunjukkan pengetahuannya yang luar biasa dalam puisinya. Menyentuh hampir semua persoalan agama, filsafat, roman, cinta, anggur dan mistisisme, ia juga membahas biografi, sejarah, bentuk prosa, geografi, dan rekaman perjalanan.  Dalam bidang sastra prosa Kerajaan Usamani melahirkan dua tokoh terkemuka, yaitu Katip Celebi dan Evliya Celebi. Yang terbesar dari semua penulis adalah Mustafa bin Abdullah, yang dikenal dengan Katip Celebi atau Haji Halife (1609-1657 M). Ia menulis buku bergambar dalam karya terbesarnya Kasyf Az-Zunun fi Asmai Al-Kutub wa Al-Funun, sebuah presentasi biografi penulis-penulis penting di dunia timur bersama daftar dan deskripsi lebih dari 1.500 buku berbahasa Turki, Persia, dan Arab, ia pun menulis buku-buku yang lain.[23]

Salah seorang penyair diwan yang paling terkenal adalah Muhammad Esat Efendi yang dikenal dengan Galip Dede atau Syah Galip (1757-1799 M). Adapun di bidang pengembangan seni arsitektur Islam, pengaruh Turki sangat dominan, misalnya bangunan-bangunan masjid yang indah, seperti Masjid Al-Muhammadi atau Masjid Sultan Al-Fatih, Masjid Agung Sultan Sulaiman, dan Masjid Aya Shopia yang berasal dari sebuah gereja. Pada masa Sultan Sulaimana di kota-kota besar dan kota-kota lainnya banyak dibangun masjid, sekolah, rumah sakit, gedung, jembatan, saluran air, villa dan pemandian umum. Disebutkan bahwa 235 buah bangunan itu dibangun di bawah coordinator Sinan, seorang arsutek asal Anatolia. Dalam hal pembangunan dan sni arsitek, Turki Usmani telah menghasilkan keindahan-keindahan yang tinggi nilainya, dan bercorak khusus sehinga membedakan dengan peradaban dan kebudayaan daulah Islam lainnya.[24]

  1. Bidang Keagamaan

Dalam tradisi masyarakat Turki, agama merupakan sebuah  faktor penting dalam transformasi sosial dan politik seluruh masyarakat. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat denagn syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Ulama memiliki peranan penting agama tertinggi berwenang memberi fatwa resmi terhadap problema keagamaan yang dihadapi masyarakat. Tanpa legitimasi Mufti, keputusan hukum kerajaan bias tidak berjalan. Kehidupan keagamaan pada masyarakat Turki Usmani mengalami kemajuan, termasuk dalam hal ini adalah kehidupan tarekat. Tarekat yang berkembang ialah tarekat Bektasyi, dan tarekat Maulawi. Kedua tarekat ini banyak dianut oleh kalangan sipil dan militer. Tarekat Bektasyi ini memiliki pengaruh yang sangat dominan di kalangan Yenisseri, sehinga mereka sering disebut tentara Bektasyi. Sementara tarekat Maulawi mwndapat dukungan dari para penguasa dalam mengimbangi Yenisseri Bektasyi.[25]

Kajian mengenai ilmu-ilmu keagamaan Islam, seperti fiqh, ilmu kalam, tafsir dan hadits boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para penguasa lebih cenderung untuk menegakkan satu faham (madzhab) keagamaan dan menekan madzhab lainnya. Sultan Abdul Hamid misalnya, begitu fanatik terhadap aliran Al-Asy’ariyah. Ia merasa perlu mempertahankan aliran tersebut dari kritikan aliran lain. Sultan memerinyahkan kepada Syaikh Husein AL-Jisr Ath-Tharablusi menulis kitab Al-Husun Al-Hamidiyah (Benteng Pertahanan Abdul Hamid), yang mengupas tentang masalah ilmu kalam, untuk melestarikan aliran yang dianutnya. Akibat kelesuan di bidang ilmu keagamaan dan fanatik yang berlebihan maka ijtihad tidak berkembang. Ulama hanya menulis buku dalam bentuk syarah (penjelasan) dan hasyiyah (semacam catatan) terhadap karya-karya klasik.[26]

Bagaimanapun, Kerajaan Turki Usmani banyak berjasa, terutama dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam ke benua Eropa. Ekspansi kerajaan ini untuk pertama kalinya lebih banyak ditujukan ke Eropa Timur yang belum masuk dalam wilayah kekuasaan dan agama Islam. Akan tetapi, karena dalam bidang peradaban dan kebudayaan kecuali dalam hal yang bersifat fisik perkembangannya jauh berada di bawah kemajuan politik, maka negeri-negeri yang sudah ditaklukkan itu akhirnya melepaskan diri dari kekuasaan pusat, dan perjalanan dakwah belum berhasil dengan maksimal.[27]

  1. D.    Kemunduran Turki Usmani

Setelah Sultan Sulaiman Al-Qanuni wafat (1566 M), kerajaan Turki Usmani mulai memasuki fase kemundurannya. Akan tetapi, sebagai sebuah kerajaan yang sangat besar dan kuat, kemunduran itu tidak langsung terlihat. Sultan Sulaiman Al-Qanuni diganti oleh Salim II (1566-1573 M). Di masa pemerintahannya, terjadi pertempuran antara armada laut Kerajaan Usmani dengan armada laut Kristen yang terdiri dari angkatan laut Spanyol, angkatan laut Bundukia, angkatan laut Sri Paus, dan sebagian kapal para pendeta Malta yang dipimpin Don Juan dari Spanyol. Pertempuran itu terjadi di Selat Liponto (Yunani). Dalam pertempuran ini, Turki Usmani mengalami kekalahan yang mengakibatkan Tunisia dapat direbut musuh. Baru pada sulta berikutnya, Sultan Murad III, pada tahun 1575 M Tunisia dapat direbut kembali. Walaupun Sultan Murad II (1574-1595 M) berkepribadian jelek dan suka memperturutkan hawa nafsunya, Kerajaa Usmani pada masanya berhasil menyerbu Kaukasus dan menguasai Tiflis di Laut Hitam (1577 M), merampas kembali Tabriz, ibukota Safawi, menundukkan Georgia, mencampuri urusan dalam negeri Polandai dan mengalahkan gubernur Bosnia pada tahun 1593 M. Namun, kehidupan moral sultan yang jelek menyebabkan kekacauan dalam negeri. Kekacauan ini semakin menjadi-jadi denagn tampilnya Sultan Muhammad III (1595-1603 M), pengganti Murad II, yang membunuh semua saudara laki-lakinya berjumlah 19 orang dan menenggelamkan janda-janda ayahnya sejumlah 10 orang demi kepentinagn pribadi. Dalam situasi yang kurang baik itu, Austria berhasil memukul Kerajaan Usmani. Meskipun Sultan Ahmad I (1603-1617 M), pengganti Muhammad II, sempat memperbaiki situasi dalam negeri, tetapi kejayaan Kerajaan Usmani di mata bangsa-bangsa Eropa sudah mulai memudar. Sesudah Sultan Ahmad I (1617-1618 M), situasi semakin memburuk dengan naiknya Mustafa I masa pemerinthannya yang pertama (1617-1618 M) dan kedua, (1622-1623 M). Karena gejolak politik dalam negeri tidak bias diatasinya, Syaikh A-Islam mengeluarkan fatwa agar ia turun dari tahta dan diganti oleh Usman II (1618-1622 M). Namun, yang tersebut terakhir ini juga idak mampu memperbaiki keadaan. Dalam situasi demikian, bangsa Persia bangkit mengadakan perlawanan merebut kekuasaannya kembali. Kerajaan Usmani sendiri tidak mampu berbuat banyak dan terpaksa melepaskan wilayah Persia tersebut. Langkah-langkah perbaikan kerajaan mulai diusahakan oleh Sultan Murad IV (1623-1640 M). Pertama-tama, ia mencoba menyusun dan menerbitka pemerintahan . Pasukan Jenissari yang pernah menumbangkan Usman II dapat dikuasainya. Akan tetapi, masa pemerintahannya berakhir sebelum ia berhasil menjernihkan situasi negara secara keseluruhan.[28]

Situasi polotik yang sudah mulai membaik itu kembali merosot pada masa pemerintahan Ibrahim (1640-1648 M), karena ia termasuk orang yang lemah. Pada masanya ini, orang-orang Venetia melakukan peperangan laut melawan dan berhasil mengusir orang-orang Turki Usmani dari Cyprus dan Creta tahun 1645 M. Kekalahan itu membawa Muhammad Koprulu (berasal dari Kopru dekat Amasia di Asia Kecil) pada kedudukan sebagai wazir atau shadr al-a’zham (perdana menteri) yang diberikan kekuasaan absolut. Ia berhasil mengembalikan peraturan dan mengkondolidasikan stabilitas keuangan Negara. Setelah Koprulu meninggal (1661 M), jabatannya dipegang oleh anaknya, Ibrahim. Ibrahim menyangka bahwa kekuatan militernya sudah pulih. Karena itu, ia menyerbu Hongaria dan mengancam Vienna. Namun, perhitungan Ibrahim meleset, ia kalah dalam pertempuran itu secara berturut-turut. Pada masa-masa selanjutnya, wilayah Turki Usmani yang luas itu sedikit demi sedikit terlepas dari kekuasaannya, direbut oleh negara-negara Eropa yang baru mulai bangun. Pada tahun 1699 M, terjadi “Perjanjian Karlowith” yang memaksa Sultan untuk menyerahkan seluruh Hongaria, sebagian besar Slovenia dan Crosia kepada Hapsburg dan Hemenietz, Palodia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia kepada orang-orang Venetia. Pada tahun 1770 M, tentara Rusia mengalahkan armada kerajaan Usmani di sepanjang pantai Asia Kecil. Akan tetapi, tentara Rusia ini dapat dikalahkan kembali oleh Sultan Mustafa III (1757-1774 M) yang segera dapat mengkonsolidasi kekuatannya. Sultan Mustafa III diganti oleh saudaranya, Sultan Abd Al-Hamid (1774-1789 M), seorang yang lemah. Tidak lama setelah naik tahta, di Kutchuk Kinarja, ia mengadakan perjanjian yang dinamakan “Perjanjia Kinarja” dengan Cathrine II dari Rusia. Isi perjanjian itu antara lain:(1) Kerajaan Usmani harus menyerahkan benteng-benteng yang berada di Laut Hitam kepada Rusia dan member izin kepada armada Rusia untuk melintasi selat yang menghubungkan Laut hitan dan Laut Putih, dan (2) Kerajaan Usmani mengakui kemerdekaan Kirman (Crimea).[29]

Demikianlah prose kemunduran yang terjadi di Kerajaan Usmani selama dua abad lebih setelah ditinggal Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Tidak ada tanda-tanda membaik sampai paroh pertama abadke-19 M. Oleh karena itu, satu per satu negeri-negeri di Eropa yang pernah dikuasai kerajaan ini memerdekakan diri. Bukan hanya negeri-negeri di Eropa yang memang sedang mengalami kemajuan yang memberontak. Di Mesir, kelemahan-kelemahan Kerajaan Usmani membuat Mamalik bangkit kembali. Di bawah kepemimpinan Ali Bey, pada tahun 1770 M, Mamalik kembali berkusa di Mesir, sampai datangnya Napoleon Bonaparte dari Perancis tahun 1789 M. Di Lebanon dan Syiria, Fakhr Al-Din, seorang pemimpin Druze, berhasi menguasai Palestina dan pada tahun 1610 M, merampas Ba’albak dan mengancam Damaskus. Fakhr Al-Din baru menyerah pada tahun1635 M. Di Persia, Kerajaan Safawi ketika masih jaya beberpa kali mengadakan perlawanan terhadap Kerajaan Usmani dan beberapa kali pula ia keluar sebagai pemenang. Sementara itu, di Arabia bangkit kekuatan baru, yaitu aliansi antara pemimpin agama Muhammad ibn Abd Al-Wahhab yang dikenal dengan geraka Wahhabiyah dengan penguasa local Ibn Sa’ud. Mereka berhasil mengusai beberpa daerah di jazirah Arab dan sekitarnya di awal paroh kedua abad ke-18 M. Dengan demikian, pemberontakan-pemberontakan yang terjadi d Kerajaan Usmani ketika ia sedang mengalami kemunduran, bukan saja terjadi di daerah-daerah yang yang tidak beragama Islam, tetapi juga di daerah-daerah berpanduduk Muslim. Gerakan-gerakan seperti itu terus berlanjut dan bahkan menjadi lebih keras pada masa-masa sesudahnya, yaitu pada abad ke-19 dan ke-20 M. Ditambah dengan geraka pembaharuan politik di pusat pemerintahan, Kerajaan Usmani berakhir dengan berdirinya Republik Turki pada tahun 1924 M.[30]

Banyak faktor yang menyebabkan Kerajaan Usmani itu mengalami kemunduran, di antaranya adalah:[31]

  1. Wilayah kekuasaan yang sangat luas

Admistrasi pemerintahan bagi suatu negara yang amat luas wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara administrasi pemerintahan Kerajaan Usmani tidak beres. Di pihak lain, para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas, sehinga mereka terlibat terus menerus dengan bebagai bangsa. Hal itu tentu menyedot banyak potensi yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun negara.

  1. Heterogenitas Penduduk

Sebagai kerajaan besar, Turki Usmani menguasai wilayah yang amat luas, mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Syiria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libia , Tunis, dan Al-Jazair di Afrika; dan Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa.Wilayah yang luas itu didiami oleh penduduk yang beragam, baik dari segi agama, ras, etnis, maupun adat istiadat. Untuk mengatur penduduk yang beragam dan tersebar di wilayah itu, diperlukan organisasi pemerintahan yang teratur. Tanpa didukung oleh administrasi yang baik, Kerajaan Usmani hanya akan menanggung beban yang berat akibat heterogenitas tersebut. Perbedaan bangsa dan agama acap kali melatarbelakangi terjadinya pemberontakan dan peperangan.

  1. Kelemahan Para Penguasa

Sepeninggalan Sulaiman AL-Qanuni, Kerajaan Usmani diperintah oleh sultan-sultan yang lemah, baik dalam kepribadian terutama dalam kepemimpinannya. Akibatnya, pemerintahan menjadi kacau. Kekacauan itu tidak pernah dapat diatasisecara sempurna, bahkan semakin lama menjadi semakin parah.

  1. Budaya Pungli

Pungli merupakan perbuatan yang sudah umum terjadi dalam Kerajaan Usmani. Setiap jabatan yang hendak diraih oleh seseorang harus “dibayar” dengan sogokan kepada orang yang berhak memberikan jabatan tersebut. Berjangkitnya budaya pungli ini mengakibatkan dekadensi moral kian merajalela yang membuat pejabat semakin rapuh.

  1. Pemberontakan Tentara Jenissari

Kemajuan ekspansi Kerajaan Usmani banyak ditentukan oleh kuatnya tentara Jenissari. Dengan demikian, dapat dibayangkan kalau tentara ini memberontak. Pemberontaka tentara Jenissari terjadi sebanayak empat kali, yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M, 1826 M.

  1. Merosotnya Ekonomi

Akibat perang yang tak pernah berhenti, perekonomian negara merosot. Pendapatan berkurang, sementara belanja negara sangat besar termasuk dalam biaya perang.

  1. Terjadinya Stagnasi dalam lapangan Ilmu dan Teknologi

Kerajaan Usmani kurang berhasil dalam pengembangan ilmu dan teknologi, karena hanya mengutamakan pengembangan kekuatan militer. Kemajuan militer yang tidak diimbangi oleh kemajuan ilmu dan teknologi menyebabkan kerajaan ini tidak sanggup menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang lebih maju. Tidak terjadinya perkembangan ilmu dan teknologi dalam Kerajaan Usmani, ada kaitan dengan perkembangan metode berpikir tradisional di kalangan umat Islam. Hal itu juga sejalan dengan menurunnya semangat berpikiran bebas akibat tidak berkembangnya pemikiran filsafat sejak masa Al-Ghazali.

Demikianlah proses kemunduran kerajaan besar Usmani. Pada masa selanjutnya, di periode modern, kelemahan kerajaan ini menyebabkan kekuatan-kekuatan Eropa tanpa segan-segan menjajah dan menduduki daerah-daerah Muslim yang dulunya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Usmani, terutama di Timur Tengah dan Afrika.[32]

BAB III

Kesimpulan

  • Nama kerajaan Turki Usmani diambil dan dibangsakan kepada nenek moyang mereka yang pertama, Sultan Utsmani Ibnu Sauji Ibnu Orthogol Ibnu Sulaiman Syah Ibnu Kia Alp, kepala kabilah Kab di Asia Tengah.
  • Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Seljuk dan Sultan Alauddin terbunuh. Kerajaan Seljuk Rum ini terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil. Usman pun menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah, kerajaan Usmani dinyatakan berdiri. Penguasa pertamanya adalah Usman yang sering di sebut juga Usman I atau Padisyah Al Usman (raja besar keluarga Usman).
  • Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Usmani. Pasukan ini dipimpin oleh Sijisman, raja Hongaria. Namun, Sultan Bayazid I (1389-1402 M), pengganti Murad I, dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa tersebut. Peristiwa ini merupakan cacatan sejarah yang amat gemilang bagi umat Islam.
  • Konstantinopel adalah ibu kota Bizantium dan merupakan pusat agama Kristen. Ibu kota Bizantium itu akhirnya dapat ditaklukkan oleh pasukan Islam di bawah Turki Usmani pada masa pemerintahan Sultan Muhammad II yang bergelar Al-Fatih, artinya sang penakluk.
  • Turki membawa pengaruh cukup baik dalam bidang ekspansi agama Islam ke Eropa. Kemajuan lainnya antara lain dalam bidang militer dan pemerintahan, bidang ilmu pengetahuan dan budaya, serta dalam bidang keagamaan.
  • Setelah Sultan Sulaiman Al-Qanuni wafat (1566 M), kerajaan Turki Usmani mulai memasuki fase kemundurannya. Akan tetapi, sebagai sebuah kerajaan yang sangat besar dan kuat, kemunduran itu tidak langsung terlihat.
  • Faktor yang menyebabkan Kerajaan Usmani itu mengalami kemunduran, di antaranya adalah:
  1. Wilayah kekuasaan yang sangat luas,
  2. Heterogenitas Penduduk,
  3. Kelemahan Para Penguasa,
  4. Budaya Pungli,
  5. Pemberontakan Tentara Jenissari,
  6. Merosotnya Ekonomi,
  7. Terjadinya Stagnasi dalam lapangan Ilmu dan Teknologi.

[1] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009) hal. 193

[2] Ibid; hal. 194

[3] Ibid; hal. 194

[4] Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008) hal. 248

[5] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2009) hal. 129-130

[6] Ibid; hal. 130

[7] Ibid; hal. 130-131

[8] Ibid; hal. 131

[9] Ibid; hal. 131

[10] Ibid; hal. 131-132

[11] Ibid; hal. 132

[12] Ibid; hal. 133

[13] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009)  hal. 197

[14] Ibid; hal. 198

[15] Ibid; hal. 198-199

[16] Ibid; hal. 199-200

[17] Ibid; hal. 200

[18] Ibid; hal. 200-201

[19] Ibid; hal. 201

[20] Ibid; hal. 201-202

[21] Ibid; hal. 202

[22] Ibid; hal. 202

[23] Ibid; hal. 202-203

[24] Ibid; hal. 203

[25] Ibid; hal. 204

[26] Ibid; hal. 204

[27] Ibid; hal. 205

[28] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2009) hal. 163-164

[29] Ibid; hal. 164-165

[30] Ibid; hal. 165-166

[31] Ibid; hal. 167-168

[32] Ibid; hal. 169