Aliran-Aliran Psikologi

ALIRAN-ALIRAN PSIKOLOGI

 

  1. 1.        Aliran Jiwa Psikologi

Tokohnya: John Locke (abad 17). Kemudian aliran ini diikuti oleh David Hume, Hertley John Stuart Mill, dan Herbert Spencer.

  1. Pendirian Psikologi Asosiasi

1)      Dalil pokok: Jika beberapa elemen (unsur) bersama-sama atau berturut-turut masuk ke dalam kesadaran, dengan sendirinya terjadi hubungan antar unsur-unsur itu. Hubungan ini disebut asosiasi.

Ciri-ciri daripada asosiasi itu ialah:

  1. Tiap gejala jiwa tidak lain adalah kumpulan unsur-unsur elemen.
  2. Kekuatan asosiasi tergantung pada banyak kalinya unsur-unsur itu masuk bersama-sama ke dalam kesadaran.
  3. Asosiasi hanya sifat luar saja, asosiasi tidak dapat mengubah sifat masing-masing elemen.[1]

2)      Metode kerja psikologi asosiasi:

Ilmu jiwa asosiasi mengikuti cara kerja ilmu gaya (mekanika) dan darinya di pakai analitis-sintetis dalam kalangan di dalam ilmu jiwa.Analitis: Orang berusaha mengadakan anlisis untuk mengembalikan semua gejala jiwa kepada unsur yang paling sederhana yakni tanggapan segala terjadi sesuatu yang terjadi dalam kesadaran berasal dari elemen-elemen tersebut. Bahkan semua gejala jiwa yang lebih tinggi (misalnya memikir,merasa, menghendaki) dapat dikembali pada tanggapan.Sintetis: Orang berusaha mengadakan sintesis menyusun gejala-gejala jiwa yang lebih pelik dari unsur-unsur pangkal yakni tanggapan.[2]

 

b.   Ciri-ciri Psikologi asosiasi

1)      Ilmu jiwa asosiasi adalah psikologi elemen. Jiwa hanya suatu jumlah atau kumpulan dari pada elemen-elemen. Kesatuan hidup kejiwaan tidak ada. Sampai-sampai D. Hume mengatakan “ Aku adalah seberkas tanggapan.”

2)      Psikologi asosiasi adalah psikologi yang bersifat ilmu pengetahuaan alam. Metode kerja yang dipaakainya adalah metode ilmu pengetahuan alam, analitis-sintetis.

3)      Psikologi asosiasi bersifat kausalistis. Peristiwa peristiwa dalam jiwa diterangkan dengan adanya perangsang- perangsang yang bersifat dari luar. Psikologi ini tidak memperhatikan adanya norma-norma hidup, cita-cita, nilai hidup yang dituju.

4)      Psikologi asosiasi bersifat sensualistis. Gejala mengenal dunia luar dipandang primer, sedangkan gejala merasa dan menghendaki dipandang sekunder.

5)      Psikologi asosiasi bersifat mekanistis. Jiwa dianggap pasif dan dipandang mesin, segala kewajiban dikuasai oleh hukum hukum asosiasi.[3]

 

  1. 2.        Ilmu Jiwa Gestalt

Agak sulit memang untuk menerjemahkan istilah Gestalt ke dalam bahasa lain. Kata Gestalt  berasal dari bahasa Jerman, yang dalam bahasa Inggris berarti form, shape, configuration, whole; dalam bahasa Indonesia berarti “bentuk” atau “konfigurasi”, “hal”, “peristiwa”, “pola”, “totalitas”, atau “bentuk keseluruhan”.[4]

Berbagai istilah bahasa Inggris telah dicoba untuk menerjemahkan istilah Gestalt ini, antara lain Shape Psychology (diajukan oleh Spearman) dan Configurationism(diajukan oleh Titchener). Namun, istilah-istilah tersebut rupanya tidak pas; dalam arti, tidak bisa menggambarkan arti yang sesungguhnya dari istilah itu dalam bahasa Jerman. Sebab itu, istilah Gestalt tetap digunakan sebagaimana adanya dalam bahasa Inggris dan juga oleh kalangan para ahli psikologi di Indonesia.[5]

Aliran yang didirikan oleh Max Wertheimer pada tahun 1912 dan kemudian dikembangkan oleh Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler ini mengkritik teori-teori psikologi yang berlaku di Jerman sebelumnya, terutama teori strukturalisme dari Wilhelm Wundt. Teori Wundt yang khususnya mempelajari proses pengindraan dianggap terlalu elemenistik (terlalu mengutamakan elemen dan detail). Padahal, persepsi manusia terjadi secara menyeluruh, sekaligus dan terorganisasikan, tidak secara parsial atau sepotong-potong. Karena itulah, kata Wertheimer, ketika sebuah melodi terdengar (dipersepsi), sebuah kesatuan dinamis atau keutuhan muncul dalam persepsi. Akan tetapi, nada tersebut dalam dirinya sendiri menyebar dan saling bergantian dalam urutan waktu tertentu. Urutan waktu itu diubah maka Gestalt-nya turut berubah.[6]

Aliran ini pun merupakan proses terhadap pandangan elementaris dan metode kerjanya menganalisis unsur-unsur kejiwaan. Menurut aliran gestalt, yang utama bukanlah elemen tetapi keseluruhan. Kesadaran dan jiwa manusia tidak mungkin dianalisis ke dalam elemen-elemen. Gejala kejiwaan harus dipelajari sebagai suatu keseluruhan atau totalitas. Keseluruhan adalah lebih dari sekedar pejumlahan unsur-unsurnya. Keseluruhan itu lebih dahulu ditanggapi dari bagian-bagiannya, dan bagian-bagian itu harus memperoleh makna dalam keseluruhan.[7]

  1. a.      Ilmu jiwa Gestalt (Gestalt Psychology) timbul sebagai reaksi terhadap elemen psikologi. Pelopor ilmu jiwa ini ialah Von Ehrendels.

Perbedaan

Ilmu Jiwa Asosiasi Ilmu Jiwa Gestalt

 

  1. Semua gejala kejiwaan terjadi dari unsur-unsur yakni tanggapan.
1)      Dalam alat kejiwaan tidak terdapat unsur-unsur melainkan gestalt (keseluruhan).
  1. Bagian-bagian (unsur) itu menjadi suatu proses penggabungan yang disebut asosiasi. Dalam jumlah ini unsur-unsur tetap berdiri sendiri dan jumlah itu benar-benar hanya merupakan gabungan unsur-unsur.

 

2)      Tiap bagian tidak berarti sama sekali; baru mempunyai arti kalau bersatuan. Tiap bentuk tertentu dari kesatuan itu disebut Gestalt.

 

 

  1. b.      Aliran-aliran Ilmu Jiwa Gestalt
    1. Aliran Berlin:

Wertheimer merumuskan teori gestalt dengan cara modern. Percobaan yang dijalankannya adalah mengenal pengamatan dan penglihatan. Dalam bukunya yang berjudul Ueber Gestalt Theori, Wertheimer mengemukakan tentang asas-asas teori Gestalt sebagai berikut:[8]

  1. Jumlah

Garis-garis ini merupakan unsur. Kalau garis-garis ini ditempatkan berjajar empat, maka keempat garis itu merupakan jumlah. Jadi jumlah merupakan kumpulan dari beberapa jumlah.

 

__________      __________      __________      __________

 

  1. Kompleks

Kita menempatkan 4 potong garis berjajar dan 4 garis lengkung yang masing-masing merupakan seperempat lingkaran. Akhirnya terdapat 2 kelompok jumlah, yakni jumlah garis lengkung. Tiap golongan mempunyai ciri jumlah. Dalam penggabungan terdapat barang baru yakni kompleks. Kompleks merupakan kumpulan dari beberapa jumlah yang belum tersusun.

 

 

 

 

  1. Struktur

Keempat garis tersebut ditempatkan dengan cara tersusun. Dalam susunan ini ada hubungan tertentu. Melihat susunan unsur-unsur itu orang tidak akan melihat garis-garis sebagai unsur satu per satu, dan tidak akan membuang unsur-unsurnya satu demi satu, melainkan cenderung menemukan susunan tertentu. Susuan dari suatu jumlah unsur disebut sttruktur/bentuk.

 

 

 

__________                              __________

 

__________

__________

 

  1. Gestalt:

Kalau keempat garis lengkung seperempat lingkaran itu kita tempatkan sebagaimana mestinya dengan cara tertentu maka terjadilah suatu gestalt seperti tampak pada gambar. Kumpulan garis lengkung ini bukan lagi sebagai jumlah kompleks atau struktur, tetapi mewujudkan gestalt (lingkaran) yang mempunyai sifat-sifat tertentu.

 

 

 

 

  1. Gestalt tersusun:

Kalau keempat garis lurus dan empat garis lengkung kita jadikan satu, akan terlihat bahwa ada barang baru yang lain sekali dengan jumlah garis lengkung. Ini merupakan gestalt tersusun, yakni susunan dari struktur dan gestalt dalam suatu bentuk yang berarti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Koffka berpendapat bahwa gestalt psikologi sebagai psikologi pertumbuhan. Dia menguraikan hal itu dalam bukunya Die Grundlagen der Psichis en Entvickling. Dia menyelidiki dan mencari asas-asas pertumbuhan dalam ilmu jiwa anak. Juga mempelajari pertumbuhan gestalt yang mula-mula sangat sederhana dan kemudian menjadi gestalt yang sempurna seperti terdapat pada orang dewasa.[9]

Kohler menguraikan tentang perbuatan seekor simpanan dalam rangka menyelidiki kecerdasan binatang. Dengan percobaan itu Kohler mengatakan bahwa peristiwa terjadinya hubungan antara simpanse – tongkat – pisang merupakan suatu gestalt.[10]

 

  1. Aliran Leipzig

Pendapat-pendapat aliran Leipzig:

  1. Dalam tiap pribadi sebagai suatu Ganzeit hidup (kejiwaan) suatu pendorong untuk mempersatukan, dengan adanya dorongan itu orang tidak pernah menerima bagian-bagian tersendiri. Segala sesuatu diterima oleh keseluruhan batinnya dalam bentuk kesatuan.
  2. Kesatuan hidup kejiwaan terutama terletak pada perasaan. Segala sesuatu yang pada suatu ketika ada dalam alam kejiwaan tersembunyi dalam perasaan, sebab di dalam perasaan terkandung seluruh hidup  kejiwaan.[11]

 

  1. 3.        Aliran Behaviorisme

Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Fredericas Skinner. Sama halnya dengan psikoanalisis, behaviorisme juga merupakan aliran yang revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Sejumlah filssuf dan ilmuan sebelum Watson, dalam satu dan lain bentuk, telah mengajukan gagasan-gagasan mengenai pendekatan objektif dalam mempelajari manusia, berdasarkan pendekatanyang mekanistik dan materialistik, suatu pendekatan yang menjadi ciri utama dari behaviorisme. Seorang di antaranya adalah Ivan Pavlov (1849-1936), seorang ahli filsuf Rusia.[12]

 

 

Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalistis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, kaum behavioris lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku-perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Tentu saja, behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan.[13]

Berkenaan dengan teori belajar ini, menurut Bandura (1977), sejak masa kanak-kanaknya, manusia sudah mempelajari berbagai tata-cara berperilaku sedemikian rupa, sehingga ia tidak canggung dan serbasalah menghadapi teori belajar sebelumnya, Bandura mengatakan bahwa manusia tidak perlu mengalami atau melakukan sesuatu terlebih dahulu, sebelum ia mempelajari sesuatu. Manusia dapat belajar hanya dari mengamati atau meniru perilaku orang lain.[14]

Aliran behaviorisme kuat berorientasi pada ilmu alam; dan sesuai dengan psikologi-asosiasi, ia selalu mencari elemen-elemen tingkah laku yang paling sederhana, yaitu refleks. Aliran behaviorisme menyatakan, bahwa semua tingkah laku manusia itu bisa ditelusuri asalnya dari bentuk refleks-refleks. Refleks adalh reaksi-reaksi yang tidak disadari terhadap perangsang-perangsang tertentu.[15]

  1. a.      Ciri-ciri Utama aliran Behaviorisme

1)        Aliran ini mempelajari perbuatan manusia bukan dari kesadarannya, melainkan hanya mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan kenyataan. Pengalaman batin dikesampingkan. Dan hanya perubahan dan gerak-gerik pada badan sajalah yang dipelajari. Maka sering dikatakan bahwa behaviorisme adalah ilmu jiwa tanpa jiwa.

2)        Segala macam perbuatan dikembalikan pada refleks. Behaviorisme mencari unsur-unsur yang paling sederhana yakni perbuatan-perbuatan bukan kesadaran, yang dinamakan refleks. Refleks adalah reaksi yang tidak disadari terhadap ssuatu perangsang. Manusia dianggap suatu kompleks refleks atau suatu mesin reaksi.

 

3)        Behaviorisme berpendapat bahwa pada waktu dilahirkan semua orang adalah sama. Menurut Behaviorisme pendidikan dalah mahakuasa. Manusia hanya makhluk yang berkembang karena kebiasaan-kebiasaan, dan pendidikan dapat mempengaruhi refleks sekehendak hatinya.[16]

  1. b.      Pendapat-pendapat Para Pengikut Behaviorisme

1)      James adalah perintis jalan filsafat pragmatisme. Pandangannya tentang filsafat dan psikologi ditulis dalam bukunya Principles of Psychology. Adapun pokok ajaran Pragmatisme itu ialah:[17]

  1. Tiap berpikir mengandung maksud tertentu, yaitu menyempurnakan hidup.
  2. Segala kenyataan bersifat pragmatis, yakni mengandung maksud tertentu, dan kenyataan itu hanya berarti kalu ada faedahnya dari manusia.
  3. Nilai pengetahuan manusia harus diuji pada kehidupan yang praktis. Benar tidaknya sesuatu pikiran itu dapat dilihat dari dapat tidaknya pikiran itu dipraktikkan, dan terbukti atau tidaknya maksud yang dikandung di dalamnya.
  4. Semboyan kaum behaviorisme: The truth is in the making. Benar ialah apa yang dalam praktik  ternyata tepat dan menguntungkan. Tidak benar, ialah apa yang dalam praktik tidak memberi hasil.

Misalnya: kalau anasir agama terbukti membawa kebahagiaan, dapatlah dikatakan bahwa agama itu benar. Filsafat pragmatisme ini kemudian diikuti oleh John Dewey (murid James).

 

Psikologi James:[18]

  1. Manusia adalah makhluk reaksi. Semua perangsang dari luar bmenyebabkan timbulnya reaksi-reaksi itu. Reaksi-reaksi tersebut dapat dibedakan reaksi pembawaan dan reaksi yang diperoleh.
  2. James mengutamakan unsur-unsur motoris, yang dipandang mempunyai arti penting. Unsur-unsur yang terpenting dari perbuatan bukanlah bayang-bayang dunia luar seperti ilmu jiwa asosiasi, melainkan refleks sensomotoris, yakni penerimaan perangsang dari dunia luar itu ditambah dengan reaksi yang berwujud gerakan-gerakan.
  3. James menghargai pendirian biologis. Semua peristiwa mengenal, merasakan, dan menghendaki adalah untuk berbuat dan bergerak.
  4. James menentang ilmu jiwa unsur. Manusia dipandangnya sebagai organisme (jasad) yang beraksi seluruhnya terhadap perangsang-perangsang.

 

2)      Mac Dougall:

Sebagai ahli jiwa, Mac Dougall mempelajari masalah insting sedalam-dalamnya. Insting dipandang sebagai pendorong dalam segala sesuatu kegiatan. Ia memandang ilmu jiwa sebagai ilmu yang mempelajari gerak perbuatan dan tingkah laku hewan dan manusia. Namun demikian, ia kadang-kadang menyerang sifat-sifat mekanistis dan behaviorisme.[19]

3)      Thorndike:

Dia adalah pengikut behaviorisme yang tidak radikal. Pendapat-pendapatnya ditulis dalam Animal Intelligence dan Educational Psychology.[20]Thordike berpendapat bahwa semua tingkah laku binatang itu bisa dijabarkan menjadi reaksi-reaksi tetap terhadap perangsang-perangsang tertentu, yaitu dijabarkan dari atau menjadi refleks-refleks.[21]

4)      Watson:

Dia adalah pengikut behaviorisme yang radikal. Sejak tahun 1912 Watson ingin meninggalkan ilmu jiwa empiris dan hendak membentuk ilmu jiwa baru, yaitu ilmu jiwa yang berdasarkan pada ilmu pengetahuan alam dengan bukti-bukti yang nyata. Pandangan Watson tentang psikologi ialah: perbuatan dipandang sebagai suatu reaksi organisme hidup yakni reaksi terhadap perangsang dari luar. Reaksi-reaksi itu terdiri atas gerakan-gerakan yang tertentu dan perubahan-perubahan dalam tubuh. Kesemuanya itu dapat dinyatakan secara objektif. Hanya perbuatanlah yang dapat diselidiki secara positif.[22]

 

 

 

 

 

  1. 4.        Aliran Ilmu Jiwa Pikir

Ilmu jiwa pikir termasuk ilmu jiwa baru. Ilmu ini mempelajari kesadaran tingkat tinggi atau kesadaran yang tidak dapat diragukan. Aliran yang termasuk dalam ilmu jiwa pikir ini ialah:[23]

  1. Aliran Wurzburg
  2. Aliran Keulen
  3. Aliran Manheim
  4. Aliran Amsterdam

 

  1. a.      Aliran Wurzburg

Tokoh: Oswald Kulpe (murid Wundt).

Pengikutnya: Ach. Buhler, Marbe dan Messer.

Kulpe mendirikan laboratorium dan mengadakan pendidikan tentang peristiwa-peristiwa kejiwaan. Sejalan dengan penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan, Kulpe mendirikan aliran baru yang disebut Wurzburger-Schule. Tugas aliran tersebut ialah mempelajari proses kejiwaan yang bernilai tinggi yakni berpikir dan kehendak, di mana hal itu sebelumnya orang kurang memperhatikannya. Untuk menyelidiki dan mempelajari proses berpikir Kulpe menggunakan metode instropeksi dan eksperimen.[24]

Dari hasil eksperimen yang diperoleh, Kulpe mengemukakan dalil-dalil berikut:[25]

  1. Dalam isi kesadaran ada bagian yang tidak dapat dinyatakan.
  2. Dalam berpikir, AKU (pribadi) memegang peranan penting.
  3. Berpikir mempunyai corak yang menentukan dan mempunyai tujuan tertentu.

 

  1. b.      Aliran Keulen

Tokohnya: Lindworsky.

Pengikut: Frohn, Sassenfeld, dan Schafer. Mereka melanjutkan pendidikan yang dijalankan oleh ahli-ahli di Wurzburg.Penyelidikan dilaksanakan dengan menggunakan metode eksperimen terhadap pikiran anak-anak yang bisu dan tuli.[26]

Hasil penyelidikan Frohn dan kawan-kawannya itu ialah:[27]

  1. Bahwa pada manusia terdapat beberapa tingkat kesadaran ( tingkat berpikir ), yaitu :
  • Tingkat berpikir konkret
  • Tingkat berpikir skematis
  • Tingkat berpikir abstrak
  1. Semua tingkat memegang peranan berganti-ganti dalam alam kejiwaan. Pikiran tidak selalu tetap pada salah satu tingkat akan tetapi selalu berpindah-pindah.Orang-orang dewasa yang normal pada umumnya dapat berpikir abstrak. Ada kalanya tingkat yang lebih rendah masih memegang peranan, tetapi sebaliknya dapat menghabat. Misalnya: seseorang menghadapi masalah baru yang sulit. Kalau hal yang abstak itu tidak dapat di pecahkan ada kalanya pikiran di turunkan ketingkat skematis atau tingkat konkret. Dengan jalan demikian mungkin hal-hal yang abstrak dapat di pecahkan dengan bantuan gambaran-gambaran konkrit maupun skematis.
  2. Anak-anak kecil, anak-anak terbelakang dan anak-anak bisu dan tuli tidak dapat melepaskan diri dari bayang-bayang yang konkrit.

 

  1. c.       Aliran Manhein

Tokohnya: Otto Selsz. Dia mempelajari peranan tanggapan dalam proses berpikir. Dari hasil penelitian tersebut Otto Selsz mengemukakan beberapa pendapat:[28]

1)      Peranan tanggapan dalam proses berpikir:

  1. Tanggapan yang konkret tidak mempunyai pengaruh sama sekali.
  2. Tanggapan konkret tidak melancarkan dan tidak menghambat jalan pikiran.

2)      Proses berpikir menurut Otto Selsz:

  1. Berpikir adalah proses ke arah tujuan yang tertentu.
  2. Berpikir adalah suatu perbuatan yang abstrak dengan arah yang ditentukan oleh soal yang harus dipecahkan.
  3. Berpikir adalah mempraktekan metode-metode penyelesaian.

 

  1. d.      Aliran Amsterdam

Tokohnya: Kohnstamm. Dia mempraktikkan hasil-hasil penyelidikan ilmu jiwa pikir di dalam pendidikan dan pengajaran. Selain itu beliau mengadakan penyelidikan yang bersifat eksperimental suatu metode yang ditentukan oleh macam tugas dan didaktis khususnya yang berhubungan dengan pengajaran rendah.[29]

Kohnstamm merumuskan asas-asas didaktik sebagai berikut:[30]

1)      Salah satu dari kewajiban sekolah yang rendah yang terpenting ialah mengajar anak-anak berpikir dengan tanggung jawab sendiri, dan hal itu harus dilaksanakan dalam taip mata pelajaran.

Untuk dapat berpikir,anak membutuhkan:

  1. Parate kennis, yaitu pengetahuan yang sewaktu-waktu siap untuk digunakan.
  2. Pengertian yang berisi, yakni pengertian yang jelas dan berguna.
  3. Kecakapan memakai metode-metode pemecahan soal dapat membentuk skema yang menambah kemungkinan berpikir berturut-turut.
  4. Adanya tuga berpikir ialah soal-soal yang mendorong dan memberi arah kepada gerak pikiran.

2)      Membaca dalam hati: adalah penting untuk latian berpikir. Pelajaran membaca dalam hati memberi kemungkinan untuk mengajukan persoalan-persoalan kecil yang dapat membangkitkan perhatian anak dan mengaktifkan jiwa anak.Dengan membaca dalam hati anak mendapat kesmpatan berpikir bebas. Membaca dalam hati dapat digunakan sebagai tes kecerdasan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan

  1. 1.        Aliran Jiwa Psikologi

Tokohnya: John Locke (abad 17). Kemudian aliran ini diikuti oleh David Hume, Hertley John Stuart Mill, dan Herbert Spencer.Jika beberapa elemen (unsur) bersama-sama atau berturut-turut masuk ke dalam kesadaran, dengan sendirinya terjadi hubungan antar unsur-unsur itu. Hubungan ini disebut asosiasi.Ilmu jiwa asosiasi mengikuti cara kerja ilmu gaya (mekanika) dan darinya di pakai analitis-sintetis dalam kalangan di dalam ilmu jiwa.

  1. 2.        Aliran Jiwa Gestalt

Aliran yang didirikan oleh Max Wertheimer pada tahun 1912 dan kemudian dikembangkan oleh Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler ini mengkritik teori-teori psikologi yang berlaku di Jerman sebelumnya, terutama teori strukturalisme dari Wilhelm Wundt. Teori Wundt yang khususnya mempelajari proses pengindraan dianggap terlalu elemenistik (terlalu mengutamakan elemen dan detail). Padahal, persepsi manusia terjadi secara menyeluruh, sekaligus dan terorganisasikan, tidak secara parsial atau sepotong-potong. Karena itulah, kata Wertheimer, ketika sebuah melodi terdengar (dipersepsi), sebuah kesatuan dinamis atau keutuhan muncul dalam persepsi. Akan tetapi, nada tersebut dalam dirinya sendiri menyebar dan saling bergantian dalam urutan waktu tertentu. Urutan waktu itu diubah maka Gestalt-nya turut berubah.

  1. 3.        Aliran Behaviorisme

Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Fredericas Skinner. Sama halnya dengan psikoanalisis, behaviorisme juga merupakan aliran yang revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Sejumlah filssuf dan ilmuan sebelum Watson, dalam satu dan lain bentuk, telah mengajukan gagasan-gagasan mengenai pendekatan objektif dalam mempelajari manusia, berdasarkan pendekatanyang mekanistik dan materialistik, suatu pendekatan yang menjadi ciri utama dari behaviorisme. Seorang di antaranya adalah Ivan Pavlov (1849-1936), seorang ahli filsuf Rusia.

  1. 4.        Aliran Jiwa Ilmu Pikir

Ilmu jiwa pikir termasuk ilmu jiwa baru. Ilmu ini mempelajari kesadaran tingkat tinggi atau kesadaran yang tidak dapat diragukan. Aliran yang termasuk dalam ilmu jiwa pikir ini ialah:

  1. Aliran Wurzburg
  2. Aliran Keulen
  3. Aliran Manheim
  4. Aliran Amsterdam


[1] Abu Ahmadi, Psikologi Umum, (Jakarata: PT Rineka Cipta, 2009), hal. 47

[2]Ibid.

[3]Ibid., hal. 47-48

[4]Alex Sobur, Psikologi Umum Dalam Lintas Sejarah, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hal. 116

[5]Ibid.

[6]Ibid., hal. 116-117

[7] Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hal. 26-27

[8] Ahmadi, loc. cit., hal. 49-50

[9]Ibid., hal. 50

[10]Ibid.

[11]Ibid., hal. 51

[12] Sobur, op. cit., hal. 121

[13]Ibid., hal. 122

[14]Ibid.

[15]Kartini Kartono, Psikologi Umum, (Bandung: Penerbit Mandar Maju, 1996), hal. 152

[16] Ahmadi, loc. cit., hal. 51

[17]Ibid., hal.51-52

[18]Ibid., hal. 52

[19]Ibid., hal. 53

[20]Ibid.

[21] Kartono, op. cit., hal.157

[22]Ahmadi, op.cit., hal. 53

[23]Ibid.

[24]Ibid., hal. 54

[25]Ibid.

[26]Ibid.

[27]Ibid., hal. 54-55

[28]Ibid.

[29]Ibid., hal. 55-56

[30]Ibid., hal. 56

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s